Wisata Dan Jejak Sejarah Di Taman Prasejarah Leang-Leang Maros

Wisata Dan Jejak Sejarah Di Taman Prasejarah Leang-Leang Maros

Maros: Terletak di kawasan pegunungan karst Maros – Pangkep, Sulawesi Selatan, Taman Prasejarah Leang-Leang Kabupaten Maros menyuguhkan pemandangan alam yang unik dan menarik. Batu cadas itu tegak menjulang tinggi ke angkasa. Sementara taman yang berada tepat di bawahnya juga sebagian besar dihiasi bebatuan.

Wisata ini benar menarik perhatian banyak kalangan. Baik wisatawan biasa yang sekadar hobi jalan-jalan atau travelling, para pelajar hingga peneliti sejarah dalam maupun luar negeri. Bagi yang datang untuk sekadar melepas penat atau bersenang-senang bisa sekaligus mengenal peninggalan sejarah. Bagi siswa cocok dijadikan untuk tempat  belajar dan tentunya sebagai lokasi yang menyimpan peninggalan sejarah menjadi tempat penelitian buat para sejarawan.

Taman Prasejarah Leang-Leang, Maros

 

Leang dalam bahasa Bugis berarti gua/lubang. Di dalam Taman Prasejarah Leang-Leang terdapat dua gua yang dinamai dengan Leang Petta Kere dan Leang Pettae. Jarak antara keduanya diperkirakan sepanjang 300 meter.

Leang Petta Kere terletak di sebelah Timur Leang Pettae. Ini menjadi gua pertama yang kami kunjungi. Sebenarnya kami menyusuri gua ini hanya untuk mengambil rekam jejak digital saja sambil mengenal benda-benda yang ada di sekitarnya.

Namun ketika kami hampir selesai, pak Rahmat dan empat orang siswi  dari salah satu Madrasah Tsanawiyah yang ada di kota Makassar datang dan  mengizinkan kami ikut bersama mereka. Jelas saja, kesempatan ini tidak kami sia-siakan. Walaupun bagi saya yang takut ketinggian, melewati satu demi satu anak tangga menuju jejak-jejak peninggalan manusia purba di Leang Petta Kere adalah uji nyali. Alih-alih terapi untuk menghilangkan rasa takut, juga tidak ingin melewatkan pengalaman berharga nan langka.

 

Di leang yang ruang dalamnya ditaksir bersuhu 27′ C ini, Van Heekeren, seorang peneliti asal Belanda menemukan jejak-jejak histori manusia terdahulu, salah satunya adalah berupa lukisan tangan. Vinyet tangan tersebut sebanyak 27 buah yang menempel pada dinding gua berlatar belakag warna merah.

Van Heekeren memperkirakan usia lukisan itu kurang lebih 5.000 tahun. Jauh berbeda dengan hasil temuan peneliti asal Australia yang datang kemudian (sayang namanya tidak disebutkan) yang mengatakan bahwa jejak ini sudah berada sejak sekitar 18.000 tahun yang lalu.

 

Akan tetapi, meski jejak histori tersebut telah ditemukan, dari beberapa jenis menusia purba yang disebutkan dalam sejarah seperti homo sapiens, Pitecanthropus, dan lain-lainnya,  jenis manusia purba yang pernah ada di gua ini belum dapat dipastikan sebagaimana keterangan yang disampaikan oleh Pak Rahmat.

Menurut pak Rahmat, pengelola sekaligus guide, tempat ini pertama kali dibuka untuk umum pada tanggal 10 Januari 1980. Diresmikan oleh bapak Dr. Daud Jusuf, Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Kabinet Pembangunan III periode 1978 – 1983, kelahiran Medan, Sumatera Utara, 8 Agustus 1926 silam.

Namun pemugaran termasuk pembuatan tangga akses naik Leang Petta Kere dan jalan setapak (yang ditunjukkan kepada kami adalah jalan setapak disekeliling Leang Petta Kere) baru dilakukan kira-kira setelah 17 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1997.

 

Setelah beberapa menit berbincang-bincang seputar Petta Kere, kami dan pak Rahmat beserta para siswi tadi akhirnya berpisah. Saya dan teman lanjut menjelajah ke arah Barat menuju Leang Pettae.

Seperti rencana awal, kami hanya berhasil menyusuri bagian luar Leang Pettae karena hanya bisa diakses jika dipandu oleh guide. Akan tetapi bukan berarti lost info tentang jejak sejarah yang ada di gua ini.

 

Pak Rahmat mengungkapkan, di Leang Pettae juga terdapat lukisan tangan. Namun yang terlihat jelas tersisa tiga lukisan. Hal ini terjadi karena ada kemungkinan disebabkan oleh usia lukisan yang sudah uzur.

Bedanya, dilihat dari depan pintu gua, bentuk fisik Leang Pettae jauh lebih rendah dan jalan masuknya pun sedikit lebih besar dari Petta Kere. Dan di halaman gua kita dapat menikmati  hamparan taman yang cukup luas.

 

Untuk kamu yang suka travelling apalagi sedang ke Makassar, yuk sempatkan dirmu mengunjungi Taman Prasejarah Leang-Leang Maros ini. Lokasi Leang-Leang juga dekat lho dengan Taman Wisata Nasional Bantimurung dan Helena Sky Bridge. Jadi sekali jalan bisa langsung tiga lokasi wisata yang bisa kamu datangi.