Untukmu Yang Hanya Sekadar Singgah

Untukmu Yang Hanya Sekadar Singgah

Photo by Ani Kolleshi on Unsplash

 

Kau seperti Januari yang mengawali, yang kusambut dengan penuh sukacita. Sebuah percakapan yang kau awali dengan kata “hai” tak kusangka kini telah menjadi  kata “bye”. Hmm, sebegitu menyakitkannya ketika mengetahui kau hanya sekadar singgah dan tak berniat menetap. Padahal kita pernah merancang harapan bersama untuk hidup bahagia dalam satu atap.

 

Aku hanya ingin hubungan ini serius. Tapi, tak kusangka kau hanya main-main. Mengetahui itu, seakan-akan semua harapan yang telah kutaruh padamu menjadi pupus.  Ketika ingin ku berkata “Putus” tapi aku sadar kita ini apa? Tanpa status, tanpa kepastian dan hanya aku yang berjuang mati-matian kemudian kau tinggalkan begitu saja hanya dengan alasan “kita tidak cocok,” katamu.

 

Kata orang aku “bodoh” karena masih bertahan pada sesuatu yang tidak pasti. Iya, benar.  Aku bodoh. Masih percaya dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Bersatu dan bahagia bersamamu, misalnya. Meskipun pada kenyataannya, kita memang tidak pernah bisa untuk bersatu karena sifat kita yang sama-sama keras seperti batu.

 

Pada akhirnya aku paham sesuatu yang dipaksakan memang tidak baik. Sekuat apapun aku bertahan, itu akan hanya menunda kesakitan yang akan datang nantinya. Aku tau melepaskanmu tak semudah membolak-balikan telapak tangan. Tapi, tak ada cara lain selain kita harus saling mengikhlaskan.

 

Sebenarnya, aku masih mencintaimu. Tapi mengingat luka yang kau torehkan begitu dalam, aku mengubur dalam-dalam harapanku untuk bersamamu kembali. Salah sekali tak apa, melakukan kesalahan sama berulang kali itu memang kau sengaja, menurutku. Ah sudahlah, lagian semuanya sudah berakhir kan? Bukankah ini maumu untuk hidup bebas tanpa ada yang mengganggu.

 

Dariku, – seseorang yang kau pernah sebut rumah,sementara