Terjebak Atmosfer Peringatan Hari Kartini

Terjebak Atmosfer Peringatan Hari Kartini

Ilustrasi Foto Lomba Peringatan Hari Kartini (Setkab.go.id)


Ada satu hal yang membuat April dianggap bulan istimewa oleh kebanyakan masyarakat Indonesia, khususnya perempuan. Pasalnya, di bulan ini tepatnya tanggal 21 tahun 1879, telah lahir seorang pejuang persamaan hak perempuan, Kartini, Gengs. Yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Kartini.
 

Hampir setiap kalangan, tua -- muda, merayakannya dengan gelaran aneka lomba. Bagi anak-anak sekolah biasanya akan ada lomba peragaan busana; memakai kebaya, pakaian adat daerah, dan lomba pidato. 
 

Di lingkungan rumah, ibu-ibu PKK akan menggelar lomba, seperti; memasak, menghias taplak meja (menyulam), memakai hijab, dan lomba merias wajah.

 

Tidak ketinggalan pejabat pemerintah, sampai reporter TV, akan mengenakan kebayà atau pakaian adat daerah tertentu di Hari Kartini.
Memperingati Hari Kartini dengan kegiatan seperti di atas, tidaklah salah. Itu bentuk apresiasi dalam mengenang sosok hebat yang telah membuka jalan bagi peradaban yang lebih baik lagi.

 

Yang terpenting adalah, mengimplementasikan gagasan-gagasan R.A. Kartini dalam kehidupan sehari-hari Gengs. Jangan sampai kita terjebak hanya pada ritual peringatan secara fisik saja. 
Lalu, bagaimana caranya membebaskan diri dari jebakan peringatan seperti di atas? Ada baiknya kita banyak membaca dan mencari tahu lagi, apa sebenarnya gagasan yang diutarakan oleh seorang Kartini. 

 

Kartini dengan segala keterbatasannya telah mampu memerdekakan ide dan curahan hatinya, dengan menulis surat pada sahabat dan kolega. Salah satu surat yang terkenal dan merupakan inti dari mengapa Kartini dianggap sebagai sosok pejuang emansipasi perempuan, adalah surat yang ditujukan pada Prof. Anton dan Nyonya pada tanggal 4 Oktober 1902.

 

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya.Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.

 

Satu hal yang terpenting, jangan sampai salah dalam mengartikan emansipasi yang digagas oleh Kartini. Yang dimaksud emansipasi, bukan ingin benar-benar menyamakan perempuan dengan laki-laki dalam segala hal, karena sejatinya memang berbeda secara lahiriah dan fitrahnya. 

 

Seperti isi salah satu surat yang ditujukan kepada Nyonya Abendon, Agustus 1900, “Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya”. 

 

Nah, Gengs. Semoga informasi yang sedikit ini bisa membuat kita lebih melek dalam mengimplementasikan buah pikiran Kartini.