Surat Cinta untuk Dia

Surat Cinta untuk Dia

 Foto: unsplash.com/@freestocks          

 

Untukmu, Senandika Irwandy, Lelaki Yang Kusebut Namanya Di Penghujung Do’aku.

 

Selamat sore menjelang malam, Senan.

            Bagaimana kabarmu petang ini? Semoga apa yang kupinta dalam do’a itu yang terjadi denganmu. Yaitu, yang terbaik. Persis seperti saat terakhir kita bertatap muka, saat kau memberikan senyum termanis bahkan yang ku ingat sebelum aku melambaikan tangan dengan perasaan porak poranda, kau tetap bersikap sepantasnya. Ah, aku yang keterlaluan sepertinya. Memutuskan pergi dari kota ini hanya karena rasa yang tak bertuan.

 

Senan,

Sebelum kau membaca coretan pena ini, pasti banyak hal yang ingin kau tanyakan kepadaku tentang kepergianku yang terkesan mendadak ini’kan? Tidak, Sen. Ini tidak mendadak, butuh waktu sewindu untuk menjelaskan bahwa cinta itu tentang waktu. Saat delapan tahu lalu awal mula kita mengenal, kamu yang selalu kesulitan dalam mengerjakan tugas kuliah dan aku selalu memberimu contekan. Kemudian tentang judul proposal seminarmu bahkan saat kamu skripsi yang tak kunjung selesai tepat waktunya. Aku merindukan masa itu, Sen.

 

Temanku, yang kuharap akan menjadi lelakiku...

Maaf, jika saat kamu membaca huruf yang berdempetan menjadi sebuah pengakuan ini aku sudah tidak bersamamu, Sen. Bukan karena aku menghindarimu atau takut dengan kenyataan bahwa pada akhirnya kamu akan menikahi wanita lain. Kurasa, ini yang terbaik.

 

Ma’af, mengenai pintamu sewindu yang lalu tentang do’a semoga kau lulus tepat waktu, ku tambahi sendiri tanpa sepengetahuanmu. Iya, Sen. Dipenghujung do’a, kuselipkan namamu menjadi do’a special saat sujudku bermain di sepertiga malamNya.

 

Ma’af, jika selama kau pacaran dengan Tika anak sastra yang jago menulis sajak cinta itu aku mati-matian belajar sastra kepada temanku, semata-mata agar bisa mengimbanginya. Bahkan satu mata kuliahku mendapat nilai C karena waktuku banyak kuhabiskan untuk mengarang kata cinta. Definisi cinta yang tidak pernah kutemukan jawabannya selama ini.

 

Dan, kau tahu, Sen?

Ternyata aku bodoh sekali. Kenapa tiap hari aku mencari arti cinta yang sesungguhnya. Membaca ratusan buku sastra bahkan mengamati beberapa orang dalam bercinta. Padahal, cinta yang kucari setiap hari bersamaku. Senyummu, tatapan matamu, hadirmu, tengilmu serta apapun yang ada di dirimu. Iya, itulah cinta yang sebenar-benarnya cinta yang ku rasakan selama sewindu ini. Dan, aku baru menyadarinya saat kamu mencintai wanita lain.

 

Senandika Irwandy,

Nama lengkapmu yang lebih suka kupanggil Senan.

Jika kamu tahu tentang selembar kertas yang bertuliskan “Teruntuk mata yang kembali basah, cintamu mungkin berkali-kali patah, hatimu mungkin seringkali terbelah. Sungguh, bukan karena kau telah kalah, hanya saja Dia tidak menginjinkan kau berikan di waktu dan orang yang salah.” Pasti tidak akan percaya bahwa aku yang menulisnya saat tengah patah hati ditolak oleh Naya. Itu sebabnya tidak pernah kuceritakan bagaimana hati ini kepadamu. Untuk mempercayai selembar kertas yang kutulis saja kau susah sekali, Sen.

 

Sen,

Yang salah bukan kamu, hatiku yang salah. Dan, kau pasti tahu tidak semua permasalahan diselesaikan dengan kesenangan yang sesuai keinginan. Terkadang ada satu masa ketika mengambil keputusan yang dipertimbangkan adalah keadaan meskipun yang sebenarnya kurang sejalan. Dan, itulah yang kulakukan sekarang, menjauh darimu.

 

Aku pamit, Sen.

Meski di sudut cemburu aku melepasmu penuh haru dan tabu. Kuharap kita sama-sama berhenti. Kamu berhenti berharap aku kembali dan aku berhenti berjuang dari hati yang tak mungkin ku miliki. Kita berhenti dititik jenuh dengan cemburu yang selalu membakar rindu.

 

Mungkin ini yang terbaik, kamu memulai berjalan dengan pilihan baru. Sedangkan aku membalikkan badan dengan harapan baru. Jangan kuatir, kau anggap aku berat. Seperti menggendong tas ranselku yang berisi puluhan buku sastra seperti beberapa tahun lalu?

 

Tidak, Sen!

Se-ringan bahasaku berpamitan dengan pesan yang terkesan. Begitulah aku telah menerima dengan ringan dan tanpa beban. Ini bukan soal siapa yang pergi atau bertahan, bukan soal tawa yang tenggelam karena tangis akan menang. Lebih dari itu, ini tentang kejujuran dari sebuah pengakuan hati.

 

Terimakasih, Sen.

Kau memberiku leluasa mengungkapkan rasa yang berantakan di atas kertas yang kau baca ini. Jika memang tidak diijinkan kita bersatu, Tuhan pasti mengijinkan namamu tetap ada di penghujung do’aku.

Temanmu, yang belajar cinta darimu....

 

Masyarakat Thurissaina