Sarung, Sebuah Budaya dan Identitas Perjuangan Bangsa

Sarung, Sebuah Budaya dan Identitas Perjuangan Bangsa

Foto Presiden Jokowi menggunakan sarung. ©biro Setpres

 

Geng baru-baru ini Presiden kita Joko Widodo mengusulkan momen penggunaan sarung bersama-sama guna mengangkat budaya bangsa.

Dikutip dari Tribunwow.com, Presiden mengatakan “Kami akan tentukan setiap hari tertentu dalam satu bulan kita memakai sarung bersama-sama. Mau tidak? Setuju tidak? Bisa seminggu sekali, bisa dua minggu sekali, bisa sebulan sekali. Kita lihat nanti. nanti lama-lama setiap hari pakai sarung”.

Jokowi berpendapat bahwa sarung adalah budaya bangsa yang harus mendapatkan posisi yang terbaik. "Inilah kekayaan budaya kita harus tempatkan pada tempat yang paling baik sebagai penghargaan kita atas karya dan produk setiap provinsi, yang berbeda motif, berbeda warna memiliki filosofi yang tinggi," jelas Jokowi.

Tapi memang gengs, sarung sendiri sudah sangat lekat dengan ciri khas masyarakat muslim di Indonesia, terutama di kalangan warga Nahdhatul Ulama. Akan tetapi pemakaian sarung tak melulu menunjuk pada identitas agama tertentu, karena pada kenyataanya sarung juga digunakan oleh kalangan di berbagai suku di Indonesia.

 

Sejarah Sarung di Indonesia

Foto: KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI

 

Dikutip dari wikipedia, Sarung adalah pakaian dari komunitas pelaut di Semenanjung Malaya dekat Sumatra dan Jawa; Menurut Gittinger, sarung lalu diperkenalkan di pulau Madura dan sepanjang pantai utara Jawa. Di akhir abad ke-19, seorang pengamat mencatat ketiadaan sarung di pedalaman Jawa. 

Saudagar laut awal di perairan ini adalah Muslim dari India, dan Islam menyebar melalui wilayah pantai, sehingga diduga sarung di awal kemunculannya mungkin adalah anyaman kotak-kotak, yang biasa diasosiasikan dengan lelaki Muslim gengs.

 

Sarung dalam Perjuangan Bangsa

Foto: Medcom.id/Ahmad Rofahan

Tau gak gengs, kalau sarung pada zaman perjuangan melawan penjajahan Belanda, sarung identik dengan perjuangan melawan budaya barat yang dibawa para penjajah. 

Para santri di zaman kolonial Belanda menggunakan sarung sebagai simbol perlawanan terhadap budaya Barat yang dibawa kaum penjajah loh gengs. Kaum santri merupakan masyarakat yang paling konsisten menggunakan sarung di mana kaum nasionalis abangan telah hampir meninggalkan sarung.

Sikap konsisten penggunaan sarung juga dijalankan oleh salah seorang pejuang yaitu KH Abdul Wahab Hasbullah, seorang tokoh penting di Nahdhatul Ulama (NU) loh gengs. 

Sebagai seorang pejuang yang sudah berkali-kali terjun langsung bertempur melawan penjajah Belanda dan Jepang, Abdul Wahab tetap konsisten menggunakan sarung sebagai simbol perlawanannya terhadap budaya Barat. Ia ingin menunjukkan harkat dan martabat bangsanya  di hadapan para penjajah.

Itulah gengs, sedikit ulasan tentang sarung. Jadi memang sangat bagus Presiden Mengusulkan penggunaan sarung dalam momen tertentu bagi masyarakat Indonesia. Selain sebagai menjaga budaya nusantara, juga sebagai pengingat kita terhadap perjuangan para pahlawan yang menggunakan sarung sebagai identitas perlawanan terhadap penjajah.