Riam Berawatn, Surga di Kabupaten Bengkayang yang Harus Kamu Kunjungi

Riam Berawatn, Surga di Kabupaten Bengkayang yang Harus Kamu Kunjungi

Provinsi Kalimantan Barat memang surganya wisata alam. Namun sangat disayangkan, Gengs! Akses untuk menikmati keindahan alam tersebut kurang memadai. Contohnya, ketika Tim Reviens media meliput Riam Angan di Kabupaten Landak, mereka harus menempuh jarak sepanjang 1 km perjalanan dengan kondisi jalan yang masih berupa tanah becek dan melewati anakan sungai yang cukup deras dan berbatu.

Gengs! Kali ini saya ingin membicarakan Bengkayang, salah satu kabupaten di Kalimantan Barat. Bengkayang adalah salah satu daerah yang memiliki ratusan riam/air terjun yang keindahannya sangat sayang untuk dilewatkan. Salah satunya adalah Riam Berawatn. Riam ini berada di Dusun Biang, Desa Bengkawan, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.

Jika ingin berkunjung ke sini, kita harus menempuh perjalanan yang cukup melelahkan. Rute yang kita lewati cukup dramatis, tragis, dan pahit mirip kehidupan seorang jomblowan.

Kebetulan, saya sekarang tinggal di Singkawang. Salah satu kota di Kalimantan Barat yang erat dengan sebutan “Kota Amoy”. Lain kali akan kita bahas mengenai kota ini. Dari Singkawang, untuk menuju lokasi Riam Berawant, saya harus menempuh perjalanan selama 4 jam (149 km) dengan moda transportasi darat. Saya melewati Jalan Singkawang-Bengkayang, Bukit Vandering, Pusat Kota Kab. Bengkayang, dan Sanggau Ledo. Perjalanan ini dapat ditempuh dengan tranportasi darat dengan mobil, dilanjut ojek motor, dan diakhiri dengan tracking melewati jalur persawahan dan hutan.

Akses yang dilalui untuk menuju lokasi Riam

Setelah memarkir mobil di rumah warga Dusun Malayang, kami menggunakan jasa ojek dari warga setempat, Gengs. Jasa ojek dipatok sebesar 100 ribu per kepala. Kala itu, saya bertemu dengan Bang Kiyo, seorang warga Suku Dayak, warga Dusun Malayang yang sebelumnya pernah berkenalan dengan saya waktu trip pertama kali ke riam ini, dan berujung gagal.

Saya pun di-ojek-in oleh Bang Kiyo sendiri. Melewati jalan tanah merah yang begitu becek dan sulit dilalui ketika hujan, waktu yang kami tempuh ke desa terakhir hampir mencapai 30 menit menggunakan sepeda motor. Dengan sigapnya, Bang Kiyo melajukan motornya. Saya pun, hanya bias membantu menjaga keseimbangan motor ketika melewati jalan berlumpur.

Setelah melewati jalan setapak persawahan selama 30 menit, sampailah kita di sebuah lahan kosong tempat para pengunjung biasa memarkir motornya. Perjalanan dilanjutkan dengan tracking selama 30 menit melewati jalur tracking khas hutan Kalimantan yang dipenuhi oleh pohon yang berukuran besar.

Tracking di hutan khas Kalimantan

Setelah dimanjakan oleh jalan landau, untuk menuju ke riam, kami harus melewati jalan seperti jurang dengan tingkat kemiringan hamper 60 derajat. Benar kata pepatah kuno, usaha tidak akan menghianati hasil. Usaha kami terbayar sudah. Setelah hampir putus asa di tengah jalan karena harus melewati jalur tracking yang cukup berat, sampailah kami di Riam Berawatn. Riam tertinggi di Bengkayang.


Geng, mungkin kamu akan bertanya, kenapa riam ini dinamakan Berawatn. Riam sendiri adalah sinonim dari air terjun, “curug” dalam Bahasa Sunda atau “cuban” dalam Bahasa Jawa. Berawatn dapat diartikan emas dalam Bahasa Dayak. Apabila kata “riam” dan “berawatn” disatukan, maka akan bermakna “air terjun emas”. Penamaan berawatn sangat cocok untuk riam ini.

Penampakan Riam dari kejauhan

Penampakannya begitu eksotis. Aura yang dipancarkan oleh riam dan alam sekitar-nya begitu kuat dan mempesona. Berdiri di depan riam, saya merasa kecil sekali jika dibandingkan ciptaan Tuhan yang lain. Kembali saya bersyukur atas apa yang saya miliki.


Memiliki ketinggian lebih dari 75 meter, riam ini berada di deretan Pegunungan Bayang. Riam ini merupakan air terjun tertinggi di Bengkayang. Gimana pendapat kalian Gengs sekalian setelah membaca cerita saya ini? Saya harap pembaca sudah dapat mebayangkan keunikan dan keindahan wisata andalan Bengkayang yang satu ini.

Pesan saya, siapkan mental, fisik, dan rencana yang matang jika ingin berkunjung ke tempat ini. Ingat, tolong jaga dan lindungi alam kita karena di bumi inilah kita hidup berdampingan dengan alam. Salam lestari.