[Opini] Wayang Sebagai Media Penyampai Pesan Politik

[Opini] Wayang Sebagai Media Penyampai Pesan Politik

Penulis: Anwar Tri Wibowo (Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur)



Indonesia kaya akan seni budaya peninggalan para leluhur yang salah satunya ialah wayang. Wayang merupakan sebuah wiracarita (sejenis karya sastra) yang mengisahkan kepahlawanan para tokoh berwatak baik, menghadapi dan menumpas tokoh berwatak jahat. Bagi masyarakat Jawa, cerita kepahlawanan ini memiliki kedudukan yang penting karena mengandung renungan-renungan tentang eksistensi kehidupan manusia dengan pencipta, sesama, dan alam semesta.


Melihat wayang sebagai warisan budaya Nusantara yang sarat nilai kehidupan, pertunjukan ini mendapat tempat di hati para pemimpin di Indonesia sejak dahulu. Sebut saja para raja Jawa yang menganggap penting pagelaran wayang sebagai media diplomasi untuk propaganda politik, pengajaran moral dan etika, pengembangan apresiasi seni, filsafat, dan kebatinan.



Di era reformasi, wayang masih berfungsi sebagai media komunikasi politik layaknya di zaman raja-raja Jawa dulu. Di Ponorogo, kepala Desa Tempuran juga memanfaatkan pagelaran wayang sebagai media hegemoni politik untuk melanggengkan kekuasaannya. Bupati Tegal periode 2014-2019, Ki Enthus Susmono menjadi dalang yang memainkan wayang guna sosialisasi program dan kebijakan pemerintah yang bersifat mikro. Selain itu, road show pagelaran wayang di D.I. Yogyakarta, Banyuwangi, dan juga Tulungagung akhir Januari lalu digunakan Kemendagri untuk menyampaikan pesan pemilu damai.

 

Jokowi pun menggunakan wayang sebagai media komunikasi politik dengan pagelaran wayang di Istana, awal agustus lalu dengan tema “Kresna Jumeneng Ratu” atau dalam bahasa Indonesia berarti Kresna jadi raja. Kresna Jumeneng Ratu berkisah tentang Narayana yang berhasil menjadi raja Dwarawati setelah mengalahkan Prabu Narasingha yang adalah seorang raksasa.


Setelah jadi raja, Narayana mendapat gelar Sri Kresna yang sakti, bijaksana, dan pandai berstrategi. Seniornya, Resi Bhisma dan Dharna pernah mengatakan bahwa satu-satunya tokoh yang mereka takuti dipihak Pandawa adalah Sri Kresna. Lakon Kresna seakan menggambarkan Jokowi yang pantas memimpin Indonesia 5 tahun ke depan dengan kebijaksana setelah berhasil mengalahkan Prabowo.


Tak hanya sebagai media komunikasi politik satu arah dari pemimpin untuk rakyat, wayang hari ini juga dapat dipakai sebaliknya, yaitu menyampaikan aspirasi sosial politik serta kritik terhadap kinerja pemerintah yang tidak pro rakyat. Wayang Beber Metropolitan adalah salah satu komunitas yang melakukannya. Dengan lakon yang tak asing di telinga seperti, Joni, Ari, Budi, lengkap dengan narasi berbahasa Indonesia dan musik modern, wayang beber kontemporer ini melestarikan pewayangan di tengah generasi muda yang mabuk media sosial dengan tetap mempertahankan nilai-nilai wayang sebagai renungan eksistensi kehidupan manusia dengan pencipta, sesama, dan alam semesta.

 

 

Sumber foto: Portal Resmi Pemprov DKI Jakarta