One Village One Product

One Village One Product

Photo by Dikaseva on Unsplash

 

One village One Product



 

Sinar mentari pagi bangunkan ku dari mimpi. Bergegas aku bangkit dan turun dari kasur. Segera aku membuka lemari pakaian dan ku ambil beberapa helai pakaian untuk kukenakan menuju kampus pagi ini. Kulangkah kan kaki menuju kamar mandi, tuk segera membersihkan diri.

 

Tepat pukul 07.00 aku telah selesai membuat diriku cantik dan rapi. Kemeja blouse warna kuning berhasil menyulap diriku yang kurus ini semakin terlihat menawan. Kebetulan jarak antara kos dengan kampus sangat dekat. Tanpa menunggu lama, bergegas aku menuju kampus dengan jalan kaki. Perjalanan menuju kampus tak menghabiskan waktu cukup lama, hanya membutuhkan waktu sekitar ±10 menit.

 

Sesampainya di kampus, aku segera menemui dosen untuk tugas skripsi. Kebetulan sekarang sedang tidak ada jadwal mengajar Pak Budi, dosen yang sedang aku cara saat ini. Tanpa berpikir panjang, kulangkahkan kaki menuju ruang dosen untuk  tugas skripsi.

 

 Kupaksa tangan untuk mengetuk pintu, dan terdengar suara yang mempersilahkan ku masuk.

“Silahkan masuk, ada apa nak?“ ucap Pak Budi sambil tangannya mempersilahkanku duduk

  “Itu Pak, maksud kedatangan saya kesini adalah saya mau menanyakan tugas skripsi. Yang kebetulan hari kamis kemarin saya tidak masuk Pak.“

“Oh begitu. Gini nak, untuk tugas skripsi saya memberikan tugas untuk meneliti tentang kebudayan lokal yang unik. Jadi, tugas skripsi ini sangat berat dan susah. Kamu harus terjun langsung ke daerah yang kamu anggap telah berhasil dengan budaya lokal tersebut. Atau budaya barat yang telah mempengaruhi daerah tersebut. Paham nak?“

“Siap siap Pak, sangat paham sekali.  Ini tugasnya dimulai besok Pak?“

“Iya, mulai besok kamu sudah bisa terjun ke daerah yang ingin kamu teliti. Semoga sukses nak. Lakukan yang terbaik!“ seru pak dosen yang dengan antusias dan melebarkan senyumnya.

“Siap pak“

 

Seusai menemui Pak Budi, aku bergegas menuju kost dan mempersiapkan semua barang yang aku butuhkan untuk esok. Tapi, ada sesuatu yang kurang ketika sedang menyiapkan barang-barang untuk besok. Semua alat sulap untuk mempercantik diri sudah, baju dan celana juga udah. Kamera dan sejenisnya juga udah. Lalu apa yang kurang? Oh iya, yang kurang adalah KAMU pengisi kekosongan hati ini haha (Padahal jomblo) -_-

 

Setelah merasa semuanya telah cukup dan pas, tak terasa lingkaran berjarum yang berdetak tersebut telah menunjukan pukul 20.00. Dan it’s time to sleep. Sebelum menuju kasur tercinta, aku membersihkan diri terlebih dahulu. Karena bau menyengat ditubuh ini tak mampu aku kuasai.

 

Kubantingkan tubuh diatas kasur, lalu kupejamkan mata. Dan berharap hari esok dan seterusnya akan menjadi hari baik untukku.

 

  “Arghhhh, kenapa kepikiran terus sih untuk besok. Tidur! Tidur! Tidur!. Aku harus tidur biar besok diriku tidak lelah dalam perjalanan.“

  Tak terasa jam menunjukan pukul 24.00. Mata ini belum sepenuhnya terlelap. Entah kenapa terbayang untuk hari esok. Namun, setelah berulangkali aku tidak berhasil memejamkan mata. Secara tidak sadar aku telah terlelap dalam mimpi

Teetttt...tetttt...turutut...tuttttttt

  “Ah suara alarm ini mengganggu tidurku“

 

Kumatikan alarm yang sedang berkumandang. Dan lewat 15 menit alarm itu berbunyi lagi bahkan sangat keras. Tapi tetap saja, aku menutup mataku lagi. Dan akhirnya alarm ketigalah yang berhasil membuatku bangun dari kasur. Betapa terkejutnya ketika melihat jam menunjukan pukul 07.00 dimana aku harus berangkat pukul 07.30.

 

Bergegas aku loncat dari atas kasur, dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, aku langsung mempercantik diri dan tanpa berpikir panjang, langsung kuangkut tas-tas berisi barang pribadiku untuk berjelajah di daerah orang.

 

Dalam menempuh perjalanan aku menggunakan travel milik temanku, yang kebetulan ia tinggal di sebuah daerah yang akan ku tuju. Karena perjalanan cukup lama dan akan menghabiskan waktu sekitar ±8 jam terpaksa aku harus memaksakan mata ku untuk memejamkan mata.

 

Detik demi detik berlalu dan cerita baru akan dimulai. Setelah merasa puas menggambar pulau kapuk, betapa terkejutnya ketika diriku mengetahui bahwa aku dan pak sopir tersesat pada sebuah jalan yang kami tidak ketahui.

 

“Loh Pak, ini udah sampai?“ tanyaku kebingungan

“Belum mbak, ini kita tersesat mbak. Karena jalan yang biasa saya lewati ditutup jadinya saya nyoba lewat jalan sini deh mbak hehe.” Jawab Pak supir travel dengan wajah tak berdosa

“Nyoba sih nyoba pak, tapi bentar lagi mau Maghrib. Sudah hampir gelap pak. Gimana kalau kita gabisa keluar dari tempat ini. Jalannya sepi lagi.“ Jawabku menyahuti pak supir dengan nada kesal

“Santai aja mbak, kita sebenarnya sudah dekat. Cuma gatau ini nyasar dimana hehe“ jawab pak supir dengan leluconnya yang receh dan yang makin membuatku kesal

Tak terasa dua puluh menit telah berlalu, membuang waktu dengan sia-sia dengan berdebat kepada pak sopir. Karena terbatasnya sinyal, kami tidak bisa mengakses googlemaps. Dan dengan terpaksa kami tidak melanjutkan perjalanan dan berhenti dipinggir berjalan. Dengan harapan ada seseorang yang lewat. Tetapi, seseorang yang menginjak tanah. Kalau ngawang kan gak lucu.

 

Setelah berjam-jam kami menunggu dengan rasa kelelahan dan kekesalan. Akhirnya, ada seseorang yang lewat dan pak supir bergegas membuka pintu mobil dan langsung menemui orang tersebut.

“Permisi Pak, saya mau tanya Desa Sumberarta itu dimana ya pak?“

“Oo Desa Sumberarta toh, iku desa kampung sebelah nak. Cidek tekan kene. Sampeyan lurus ae, terus prapatan mbelok kiri iku wes mlebu nang Desa Sumberjati nak.“ Ucap salah satu asli penduduk desa ini dengan bahasa jawa medog.

“Baiklah Pak, terima kasih banyak“

 

Seusai bertanya dengan salah satu penduduk di desa ini. Kami langsung menuju ke Desa Sumberarta dengan mengikuti arahan dari bapak tadi. Dan syukurlah, semua berjalan dengan lancar. Dan kami telah menemui desa yang kami tuju.

 

“Mbak, kita sudah sampai di desanya“ kata Pak supir sambil menoleh kebelakang

“Oh jadi ini toh pak, desa yang terkenal dengan desa tapi tidak desa alias desa modern?“ tanyaku kepada pak supir untuk memastikan.

 

“Iya mbak. Desa ini dulunya sangat miskin. Dan pada akhirnya terdapat sebuah pemimpin desa yang beliau kebetulan turunan Jepang. Dan beliau juga yang mencetuskan One village One Product yang maksudnya adalah setiap desa harus punya keunikan pada produk tertentu untuk dikembangkan. Dan akhirnya desa tersebut bisa survive. Dan beliau meniru prinsip ini dari Jepang. Dan berhasil membuat desa ini sukses dengan lukisan-lukisan yang terkenal sangat estetik dan memiliki makna tersendiri. Dari hasil lukisan-lukisan tersebutlah yang berhasil menambah penghasilan untuk desa tersebut. Dan itulah mengapa desa ini diberi julukan DESA SUMBERARTA. Karena SUMBERARTA memiliki arti SUMBER UANG. Dan penduduk di desa ini bermata pencaharian sebagai pelukis. Gitu mbak, ceritanya“ 

 

“Keren juga Pak ceritanya,semakin penasaran saya di desa ini. Terima kasih Pak telah bercerita tentang desa ini. Doakan saya sukses melakukan penelitian di desa ini ya pak. Karena desa ini cukup menarik perhatian saya“

“Iya mbak, semoga sukses. Ini saya antar mbak ke rumah temen mbak ya?“ Tanya pak sopir dengan ramah

“Iya pak, karena untuk beberapa hari kedepan dalam melakukan penelitian saya akan tinggal disana pak”

“Oh baiklah mbak”

 

Tak lama kemudian, Pak supir telah mengantarkanku ke rumah temanku. Dan tak lupa akupun juga berpamitan dengan pak supir dan berterimakasih kepadanya.

 

“Pak terima kasih untuk hari ini, karena telah mengantarkan saya menuju desa ini dengan selamat dan berbagi cerita“ ucapku dengan ramah dan sambil menorehkan senyum

“Iya mbak, sama-sama. Semoga sukses ya mbak penelitiannya“ ucap pak supir dengan nada antusias dengan maksud menyemangatiku.

Seusai berpamitan, pak supir langsung meninggalkan kami berdua. Dan Zee mempersilahkan aku masuk kedalam rumahnya. Ia menyambut kedatanganku dengan penuh ramah dan sangat baik sekali. Sehingga membuatku semakin sungkan kepadanya.

“Zee ini aku beneran tidur sekamar sama kamu? Kamu gak keberatan gitu?“ tanyaku kepada Zee untuk memastikan

“Jelas gapapa lah, udah santai aja kali. Toh, kamarnya agak luas kok. Kamu tenang aja. Aku malah seneng kalo ada temenya. Jadi bisa curhat-curhat deh“

“Makasih Zee. Kalau kamu mau curhat, curhat aja gapapa Zee“

“haha,siap“

  Setelah kami puas berbincang-bincang. Tak terasa waktu telah menunjukan pukul 21.00 dan akhinya kami berdua langsung menuju kamar dan memaksa melelapkan diri.

**

 

Pukul 04.30 kami terbangunkan oleh alarm yang berdering. Dan akhirnya kami bergegas bangun dari kasur dan merapikan tempat tidur.

“Zee, nanti anterin aku keliling desa ini ya. Aku ingin tahu tentang desa Sumberarta lebih dalam lagi. Aku juga ingin belajar melukis di desa ini. Yang denger-denger katanya desa ini lukisannya sangat terkenal“ ucapku dengan nada rendah

“Iya, pasti aku anterin. Memang desa ini terkenal akan lukisannya. Dan bahkan telah diekspor ke negara asing juga. Eh ayo kita mandi dulu deh, habis itu aku anterin kamu keliling desa ini dan kemudian aku juga akan cerita ke kamu tentang desa ini.“

“Wah keren ya, jadi nggak sabar nih. Pengen tahu cara pembuatannya secara langsung. Yaudah aku mandi dulu ya Zee.“

**

 

Akhirnya kami berdua pun telah selesai mandi dan mempercantik diri. Kemudian kami langsung menuju keluar rumah. Dan berjalan mengelilingi desa untuk melihta aktivitas warga disini.

 

Dan sungguh aku sangat terkejut ketika melihat banyak warga seperti disuatu pendopo di desa tersebut melakukan kegiatan yang sama yaitu melukis. Langsung aku bergegas menuju kesana. Dan ingin mengetahui lebih dalam

“Zee ayo kesana. Kayaknya menarik deh. Aku pengen tahu. Soalnya, jarang banget gitu ada desa yang hampir seluruh warganya mempunyai profesi yang sama.“

“Oh iya ayo.“ Sahut Zee dengan penuh semangat sambil berjalan cepat menuju pendopo tersebut.

 

Aku sangat terkejut ketika menginjakkan kakiku di pendopo. Karena banyak sekali lukisan indah yang terpampang dan aku sangat speechless ketika memandangnya. Lukisan itu bukan sembarang lukisan, karena para pelukis disini melukis dengan penuh makna. Itulah alasan kenapa lukisan dari desa ini sangatlah mahal. Dan lukisan yang biasanya dibuat di daerah ini adalah lukisan yang menggambarkan tentang kebudayaan daerah yang terkenal. Seperti, lukisan yang paling sering dicari adalah lukisan tentang seni barong dan sejenisnya. Lukisan tersebut memliki banyak arti dan merupakan salah satu kesenian dari Bali. Tak hanya kesenian barong saja yang sering dilukis, tapi masih banyak lagi kesenian-kesenian lain yang terkenal yang dilukis di desa ini. Dan itulah yang membuat desa ini terkenal dengan nilai seni yang tinggi. Karena pelukis-pelukisnya sangat andal.

 

“Zee, aku mau belajar ngelukis dong. Pengen tahu juga gimana caranya biar lukisannya bagus dan lebih terlihat estetik.“ Pintaku kepada Zee dengan nada sedikit meringkik

“Iya, ayo ikut aku sini. Aku ajak ke ahlinya langsung“ Ucap Zee sambil menarik tanganku

 

Zee mengajak ku menemui mbak Shinta. Wanita yang berumur 23 tahun ini merupakan seniman muda andal yang karyanya telah mendunia. Dan bahkan menjadi trending di negara tetangga saat ini karena keunikan dan keindahan lukisannya. Dan mbak Shinta juga yang membuka sanggar untuk pelukis-pelukis muda yang berusia 6-10 tahun. Dengan tujuan agar ketika mereka menginjak usia dewasa mereka bisa mengembangkan bakat yang telah mereka miliki sejak usia dini.

 

“Mbak Shinta“ sapa Zee dengan senyum khasnya

“Hai Zee, tumben banget kamu kesini. Ada apa?“ sahut mbak Shinta dengan kebingungan

“Gapapa mbak, ini mbak kenalin temenku dari kota. Dia disini sedang menjalani tugas skripsinya mbak. Dan sekarang dia ingin tahu cara melukis yang baik dan benar. Kayak lukisan nya mbak Shinta tuh, kan bagus.“

 

“Oh gitu, oke oke ayo kesini“

 

Dan akhirnya mbak Shinta pun memberikan kanvas kepadaku sebagai latian awal melukis. Ia sangat sabar dan teliti dalam mengajariku melukis. Kemampuannya sudah tidak perlu diragukan lagi.

 

Setelah selesai belajar melukis dengan mbak Shinta. Aku dan Zee pun kembali pulang untuk beristirahat. Dan Zee akan membantuku melanjutkan perjalanan keliling desa ini esok hari.

 

Sesampainya di rumah Zee, kami langsung membersihkan diri. Dan kemudian melanjutkan makan malam bersama dengan keluarga Zee. Dan lagi-lagi aku dibuat terkejut dengan tradisi desa ini. Yaitu dengan cara makan yang duduk lesehan dan menggunakan sumpit. Mendahulukan yang tua serta tidak boleh menunjuk makanan dengan sumpit. Karena akan dianggap tidak sopan. Dan ini merupakan pengaruh dari budaya asing. Yaitu budaya Jepang. Dan kebetulan aku telah melakukan kesalahan pada makan malam hari ini. Yaitu aku tak sengaja menunjuk hidangan yang telah disajikan dengan sumpit. Dan kemudian Zee langsung memarahiku.

 

“Zee aku mau itu.“ Ucapku sambil menunjuk lauk yang disajikan saat itu

“Tangan kamu jangan gitu. Kamu gak boleh menunjuk makanan dengan sumpit. Itu gasopan“ Ucap Zee dengan tegas

“Eh iya Zee, maaf lupa. Maaf ya Zee aku belum terbiasa. Tapi janji deh. Gak ngulangin lagi“ ucapku memohon kepada Zee saat itu

“iya iya“

 

Setelah makan malam telah selesai. Pada hari itu juga aku belajar tentang cara menghargai perbedaan budaya. Dan mulai menyimpulkan bahwa daerah di Indonesia memiliki beragam perbedaan. Dengan toleransilah semuanya akan terasa indah dan damai.

 

Hari demi hari aku mulai paham dan mengerti tentang budaya disini. Kehidupan disini tak sepenuhnya utuh tradisional seperti zaman nenek moyang. Tetapi, sekarang telah dipengaruhi oleh kebudayaan asing. Tapi uniknya dari desa ini adalah mereka sangat senang sekali dengan tamu yang datang ke desa mereka. Dan mereka akan menyambut baik. Dan di desa ini juga mempertahankan tradisi keramahan yang sangat tinggi. Mereka juga memandang sebuah perbedaan adalah kesatuan yang harus dijunjung tinggi.

 

Kehidupan adalah sebuah lukisan yang harus diabadikan dalam setiap waktu tertentu. Karena dalam suatu kehidupan yang unik selalu dapat kisah yang menarik.  Dan melukis merupakan sarana dalam menyampaikan sebuah rasa lewat media gambar. Di desa ini juga, pelukis-pelukis andal dilahirkan. Karena orang tua mereka banyak yang mengajari mereka dengan melukis sejak kecil. Mereka juga mengahasilkan uang dari melukis. Jadi tak heran, jika desa ini di setiap rumah pasti terdapat lukisan yang sangat banyak tertempel di setiap ruangan.

 

Menurutku, budaya bersifat dinamis. Iya akan berubah seiring perkembangan zaman. Tapi sejarah tetap tidak akan berubah. Hanya saja budaya akan selalu berkembang dengan perbedaan-perbedaan yang tidak terlalu signifikan tapi sangat berpengaruh. Contohnya saja di desa ini, di desa ini tetap menjunjung tinggi kebudayaan lokal tetapi cara berhubungan sosial nya sudah tercampur oleh gaya budaya barat. Dalam tata cara makan saja. Di desa ini hampir seluruhnya sudah menggunakan sumpit yang seperti kebudayaan orang Jepang.

 

Meniru budaya asing boleh saja. Asal ambil baiknya, buang buruknya. Tetap kita sebagai bangsa Indonesia harus selalu bersikap selektif terhadap budaya yang masuk ke Indonesia. Dan tak semua budaya asing itu buruk. Dan sekarang banyak remaja Indonesia lebih menyukai produk buatan Negara asing daripada produk buatan lokal. Jadi seharusnya sebagai warga Negara Indonesia yang pintar. Kita bisa mengkolaborasikan style produk dari Negara asing dengan produk dari lokal. Misal membuat baju dengan corak Batik tetapi dengan gaya stylish kita meniru style baju seperti produk negara Asing. Lebih baik jadi pencipta, daripada hanya sekadar penikmat

 

 

 

Kehidupan adalah bentuk lukisan nyata yang selalu memiliki arti dalam setiap detiknya. Dan tetaplah menjadi Negara Indonesia yang selektif dan selalu berpikir kreatif