Ndalem Trajumas Isyarat Kebangkitan Batik Purworejo

Ndalem Trajumas Isyarat Kebangkitan Batik Purworejo

Purworejo – Sejarah Batik Purworejo pernah mengisi perjalanan waktu peradaban kota di pinggir Sungai Bogowonto ini, dan eksis dijamannya, namun sayang perjalanan waktu itu juga mengantarkannya pada masa di mana Batik Purworejo hanya tinggal cerita.

 

Meskipun beberapa generasi baru memunculkan dan mengklaim diri sebagai penjaga dan penerus usaha Batik Purworejo, namun beberapa kurator batik menilai motif batik yang muncul ternyata tak lebih dari gambar yang ditoreh pada kain, misal gambar Bedhug, Buah Manggis, Penari Ndholalak, Gambar Kambing dan Clorot. Meski semua identik dengan Purworejo, namun jauh dari bayangan para kurator mengenai Batik Purworejo yang pernah eksis di jamannya.
 

 

“Membatik dan membuat motif batik bukan sekedar menggambar, namun lebih pada proses kreatif memindahkan ide dan konsep artistik pada media kain, misal dulu pernah tenar Motif Batik Purworejo, Peksi Ngumboro, tak lantas gambar burung dipindah ke media begitu saja, namun bentukan artistik penuh improvisasi, bagaimana sayap dan ekornya tak mesti harus real seperti burung, namun bisa dengan improvisasi artistik!” kata Jezzy, penggiat batik kepada Reviens.
 

 

Batik Purworejo memang harus bangkit lagi di era Milenial ini, di mana referensi dan kepustakaan era internet yang “available” selalu siap menyediakan bahan acuan buat siapa saja yang konsen akan kebangkitan ini.
 

 

Adalah Ny. Yayuk Ibnu Sukarso berusaha menangkap momen ini dengan membangun kebangkitan Batik Purworejo dengan memanfaatkan rumah peninggalan orang tuanya untuk showroom yang diberi nama nDalem Traju Mas yang difungsikan sebagai tempat Display pusat oleh-oleh dan batik Kabupaten Purworejo.

 

 

Yayuk mengatakan bahwa Ndalem Trajumas ini merupakan pesan orangtua, yaitu ibunda yang wafat pada 30 April 2019 lalu. Ibunda yang selalu menginspirasi putra-putri dan kalangan pendidik di Puworejo, pendiri Paud Trajumas yang awalnya hanya mengundang anak-anak seputaran rumah untuk diajak belajar. Kini Trajumas mampu tumbuh menjadi tempat pendidikan ratusan anak di Purworejo.
 

 

"Wasiat dari ibu, agar rumah jangan sampai kosong, tetapi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umum, ibunda saya selalu mengingatkan, supaya selalu punya kontribusi dan manfaat buat orang lain" tambah Yayuk lebih lanjut.
 

 

Ibundanya sudah merintis PAUD, TK dan Penitipan Anak, yang sekarang sudah berkembang dengan baik.
"PAUD dan TK Traju Mas memperoleh predikat A plus, bahkan pernah juara 2 tingkat Nasional," papar putri sulung Ibnu Sukarso itu.

 

Rumah penuh kenangan masa kecil Yayuk memang tak pernah sepi dari celoteh dan teriakan anak-anak, dan tak akan pernah kosong, ke depan akan menjadi display pusat oleh-oleh dan batik UMKM dari kecamatan se-Purworejo.

 

Home industry batik Purworejo yang sudah mendapat alokasi di Ndalem Trajumas tercatat Batik Remet, Ciprat, batik Dewa, Naraya, Arimbi, dan Jrakah. Yayuk mengangkat tema "Keelokan Batik Lokal Purworejo di kancah nasional" saat meluncurkan nDalem Traju Mas, Sabtu (7/12) di Jl. Arahiwang No. 5 Kenteng Banyuurip, Purworejo.

 

Direktur Utama Ndalem Trajumas, Setiawan Sumoharjo yang juga menantu ke-5 Ibnu Sukarso, menyiapkan kurator handal untuk mengakomodir para pembatik, “Kurator, sesepuh yang paham batik lawasan dari Purworejo juga designer kita usahakan selalu bersinergi di Ndalem Trajumas ini nantinya.” Menurutnya masih cukup banyak batik di Purworejo, Loano, Grabag, Bagelen tentunya bisa memperkaya khasanah perbatikan di Purworejo khususnya.
 

 

"Pengusaha batik lokal awalnya bekerja sendiri. Tiap bulan hanya bisa memasarkan 3 sampai 4 kain batik saja. Namun setelah kami bantu, berhasil terjual lebih dari 30 batik," papar Wawan, sapaan akrabnya.

 

"Kami ingin Purworejo semakin dilirik potensi batiknya. Wilayah Purworejo berada di posisi segi tiga, yaitu Magelang, DIY dan Kebumen," imbuh cucu Jendral Urip Sumoharjo ini.

 

Putri ke-2 Ibnu Sukarso, Dwi Retnani Hesti Marhaeni, turut menambahkan, kain perca yang dihasilkan pengrajin juga dihargai.
 

 

"Untuk perca yang berukuran diatas 20 cm, akan dibuat dompet, dan yang dibawah 20 cm akan disambungkan menjadi kain yang lebar, dan bisa digunakan untuk sajadah, selimut maupun sprei," ujarnya.

 

Kedepan, menurut Hesti, pihaknya akan melibatkan para pembatik senior di Purworejo agar kedepan lebih profesional. Misalnya, bagaimana penentuan harga. "Kami juga mengajak penjahit langganan untuk kerjasama. Dan kami mungkin bisa membuat event besar, bekerjasama dengan dinas terkait,” ujarnya.

 

Kepala Bagian Perekonomian Setda, Titik Mintarsih, mewakili Wakil Bupati Yuli Hastuti mengucapkan selamat dan sukses kepada keluarga besar Ibnu Sukarso.


 

Acara tersebut juga dihadiri Komandan Kodim 0708 Purworejo, Letkol Infanteri Ghasim beserta istri, istri-istri pejabat Purworejo, istri camat se-Kabupaten Purworejo, Pelaku UMKM Purworejo dan pegiat batik Purworejo. Launching nDalem Traju Mas dimeriahkan peragaan busana dengan model anak-anak Paud Trajumas berkolaborasi dengan para orang tuanya serta bu guru, mengangkat batik Purworejo.
 

 

“Saya banyak mengucapkan terima kasih kepada pendiri Ndalem Trajumas yang telah memberi tempat buat kami Batik Ciprat yang mengkaryakan anak-anak Difable, sungguh ini sangat terharu ...karya anak-anak bisa di display di sini, sangat menolong kami!” kata Darminah kepada Reviens sesekali menitikkan airmata haru. Darminah menceritakan dalam satu bulan bisa menjual 35 potong setelah Ndalem Trajumas memberi tempat di sana. (agam)