Mengenal Lebih Dekat Cerpenis Kalimantan Barat : E. Widiantoro

Mengenal Lebih Dekat Cerpenis Kalimantan Barat : E. Widiantoro

Lahir di Pontianak dari Keluarga keturunan Jawa yang yang lama tinggal di Kabupaten Ketapang. Sejak 2012 beliau hijrah ke Kubu Raya. Kepiawaiannya menulis juga tak kalah hebat dengan keahliannya menyatukan hati insan yang berbeda, namun beliau bukan seorang Penghulu. 

Pak Wid panggilan akrab dari E. Widiantoro gigih menjalankan profesinya sebagai seorang Staff Pelaksana di Kantor Urusan Agama Desa Kapur.

 

Ya, Widiantoro adalah seorang Cerpenis kenamaan dari Provinsi Kalimantan Barat dan juga seorang penggiat literasi dan sekaligus seorang Aparatur Sipil Negara.

 

Banyak karya yang sudah dihasilkan oleh beliau yaitu 
1. Kumpulan puisi; Kembang Pawan dan 199 puisi lainnya.
2. Novelet: Perempuan di Kampung Caping.
3. antologi cerpen : Seratus Tujuh Belas Cerpen E. Widiantoro, yang merupakan himpunan cerpen-cerpen karya E. Widiantori sejak 1992-2018 dalam 12 antologi cerpen.

 

Beberapa karyanya  terhimpun dalam antologi puisi dan cerpen bersama penulis lain di Kalimantan Barat seperti antologi cerpen Kalbar Berimajinasi, Roming Kontrak, Orang-Orang Untuk Masa Depan dan antologi cerpen Dua Sisi.

 

Antologi puisi Negeri Para Pemimpi, antologi puisi & syairJangak. Karyanya juga tersebar melalui acara cerpen RRi Pontianak, Majalah Pramuka,SKM Partisipasi, Majalah Info Ketapang, Harian Suara Pemred Kalbar, Harian Pontianak Post dan beberapa media online.

 

Berikut interview singkat mengenal sosok E. Widiantoro :

 

1. Siapa sih Pak Influencer Bapak dalam berkarya?
Saya tidak punya influencer dalam dunia literasi

 

2. Kenapa memilih dunia Literasi padahal kan background Bapak adalah Seorang ASN?
Dunia literasi dunia yang asyik karena kreativitas yang tak mati, jadi kegemaran tersendiri, hobi. Dunia literasi bisa diminati siapa saja, termasuk ASN seperti aku.

 

3. Bagaimana membagi waktu menulis dengan bekerja?
Menulis lebih sering kulakukan di luar jam kerja. Bisa sewaktu libur, malam sebelum tidur atau sewaktu nongkrong di kedai kopi. kalau di kantor ya, aku bekerja seperti biasa. Aku jarang nenulis di kantor kecuali kaitan dengan kedinasan.

 

4. Alasan Bapak menulis itu apa?
Aku menulis karena memang ada yang hendak kusampaikan tentang banyak hal bisa saja karena kritik terhadap satu fenomena sosial di masyarakat, karena iseng dalam suasana romance. Lebih sering karena hendak menyampaikan pengertian atau  pesan dakwah

 

5. Apa yang membuat Bapak bertahan di dunia Literasi?
Aku tetap bertahan di dunia literasi karena inilah media untukku menyampaikan ajaran dari langit untuk bumi. Media dakwah, menyebarkan kebaikan yang diajarkan tuhan untuk manusia. Aku berharap dengan tulisan aku bisa pula menggapai ridho-Nya. Tidak hanya itu, lasanku bertahan di dunia literasi, sejatinya berdakwah tanpa harus menggurui.


 
6. Tanggapan Bapak terhadap generasi muda dalam dunia Literasi?
- Tanggapanku dengan generasi muda sekarang, satu sisi nereka lebih cerdas menangkap tren. Lebih terbuka dengan beragam informasi  karena jejaring medsos. Sisi lain, anak-anak muda sekarang sebagian terlihat biasa bahkan apatis dengan kondisi sekitar, lebih  sibuk dengan diri sendiri, cenderung suka bersenang-senang.
- Ini hal yang mengkhawatirkan. Bagaimana kondisi bangsa ke depan kalo anak-anak muda seperti yang kusebutkan tadi. Mereka tak suka bicara politik, tak peduli kebijakan penguasa yang merugikan masyarakat, abai dengan nasib bangsa.

 

7. Apa yang perlu dibenahi dari generasi muda?
Perlu pembenahan pola pikir. Kita butuh orang-orang tangguh yang tak melulu berpikir untuk diri sendiri, tetapi mau berpikir untuk orang lain, untuk kemajuan bersama. Sekarang, aksi semacam itu telah ada, anak-anak muda yang menjadi volunteer untuk gerakan sosial, wira usaha, lingkungan dan kemanusiaan.

 

8. Menurut pak wid, setuju nggak kalau seorang penulis atau pekerja seni harus memiliki pekerjaan tetap atau sebaliknya?alasan
Seorang penulis atau pekerja seni semestinya punya pekerjaan tetap karena bekerja adalah fitrah kemanusiaan. Dengan bekerja manusia memuliakan dirinya. Meski berkesenian juga sesungguhnya bekerja, masyarakat lebih menganggap itu bukan profesi, melainkan penyaluran bakat dan hobi sehingga layak diapresiasi.

Demikianlah interview singkat seorang yang lahir pada tanggal 11 Juli 1973, seorang ASN dan juga seorang penulis kenamaan. Satu orang dengan dua profesi membuat    sosok beliau ini sangat berbeda.