Makna dan Filosofi Bubur Merah Putih

Makna dan Filosofi Bubur Merah Putih

Foto: masakapahariini.com

 

Bubur merah putih mengandung makna dan filosofi sendiri. Di kalangan masyarakat Jawa, seperti yang dikutip dari laman merdeka.com, bubur merah putih dibuat sebagai simbol untuk menolak bala atau menghindarkan manusia dari kesialan atau keburukan. Maka tak heran jika bubur merah putih kerap dibuat dan disajikan pada acara seperti bayi yang baru lahir, perayaan ulang tahun, acara pernikahan, musim panen, bentuk rasa syukur terhindar dari kecelakaan, dan sebagainya.

 

Dalam acara bancakan, tasyakuran, atau selamatan, bubur merah putih akan disajikan dan dibagikan setelah selesai menghaturkan doa dan harapan kepada Yang Maha Kuasa. Secara dimensi sosial, membagikan bubur merah putih juga bisa meningkatkan silaturahmi ke para tetangga dan saling berbagi kebahagiaan serta doa untuk saling jaga diri.

 

Warna merah dan putih juga konon diyakini melambangkan keberanian dan kesucian. Merah sebagai simbol keberanian dan putih sebagai simbol kesucian. Dalam acara kelahiran bayi atau pemberian nama, bubur ini menyimbolkan harapan agar anak nantinya tumbuh menjadi pribadi yang berani dan selalu bertindak di jalan yang suci (benar dan baik).

 

Ada juga mitologi Jawa yang menyebutkan bahwa bubur putih merupakan simbol bibit dari ayah dan bubur merah merupakan simbol bibit dari ibu. Saat disatukan dalam satu wadah, maka ada simbol penyatuan dan hadirnya manusia baru. Bisa dikatakan bubur merah putih melambangkan kehidupan manusia di dunia. Sungguh menarik ya menilik makna dan simbol dari makanan yang hadir dalam acara-acara tradisi budaya.

 

Secara turun temurun, bubur merah putih senantiasa hadir dalam acara-acara yang tak lepas dari harapan dan doa untuk bisa senantiasa dalam kondisi selamat di dunia maupun di akhirat. Bisa jadi ada berbagai sudut pandang lain terkait simbol dan makna bubur merah putih ini dan itu pastinya menambah kekayaan tradisi masyarakat kita.

 

Berbagai Sumber

Penyusun: Dwi Santoso