Lestarikan Cagar Budaya, Kuatkan Sejarah Bangsa

Lestarikan Cagar Budaya, Kuatkan Sejarah Bangsa

Tak banyak yang tahu bahwa ternyata di bumi Sriwijaya, yakni kota Palembang Sumatera Selatan, tersimpan banyak peninggalan kuno Indonesia. Daerah itu memiliki banyak situs cagar budaya yang perlu dilestarikan dan dirawat oleh negara. Cagar budaya ini menjadi saksi bisu sejarah bangsa Indonesia. Bukan hanya berbentuk bangunan, tetapi juga benda.

 

Perlunya Pendataan Ulang Cagar Budaya

Saat ini, cagar budaya yang ada di kota Palembang saja terdata sebanyak 315 situs loh gengs. Namun, jumlah ini masih sangat minim jika melihat potensi sejarah dan asal-usul Kota Palembang. Setiap nama tempat yang ada di kota tersebut memang sarat dengan asal usul sejarah. Situs-situs yang merupakan warisan dari kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan pun masih banyak yang belum terdata dengan baik.

 

Menanggapi hal ini, Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memutuskan untuk kembali mendata cagar-cagar budaya yang ada di daerah tersebut. Rata-rata cagar budaya tersebut adalah bangunan-bangunan peninggalan Belanda saat menjajah tanah air Indonesia. Contohnya seperti bangunan Rumah Sakit RK Charitas, rumah singgah Soekarno, serta lorong pertahanan yang berisi rumah-rumah tahanan Belanda di daerah Plaju.

 

Salah satu objek cagar budaya yang baru ditemukan pada awal 2017 adalah gua Harimau. Gua ini terletak di bukit Karang Sialang, Desa Padang Bindu, Kecamatan Semidang Aji, Kabupaten OKU. Gua Harimau menyimpan 86 kerangka manusia dari ras Mongoloid yang diperkirakan hidup sekitar 4000 tahun lalu.

 

Di dinding gua terdapat lukisan prasejarah yang menyerupai corak batik Palembang dengan beragam motif khasnya. Dengan penemuan ini, dapat ditarik kesimpulan sejarah bahwa pernah hidup manusia di dalam gua tersebut, dan pada saat itu, mereka telah mengenal seni dan budaya.

 

Hal ini menjadi latar belakang yang mutlak bahwa pelestarian cagar budaya itu penting. Bukan hanya sejarah bangsa saja yang bisa ditelusuri, melainkan sampai masa prasejarah pun bisa terungkap. Namun, untuk menemukan dan mendata seluruh cagar budaya yang belum terekspos tentu butuh peran dari banyak pihak.

 

Pihak-Pihak yang Mesti Berperan

Dirjen Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menurunkan penggiat budayanya untuk melakukan sosialisasi mengenai cagar budaya pada tahun 2017 lalu. Sosialisasi ini perlu dilakukan agar masyarakat luas mengerti apa itu cagar budaya, manfaat dan peran pentingnya bagi sebuah negara, sehingga mereka pun dapat berkontribusi untuk membantu percepatan pendataan.

 

Sosialisasi ini juga harus ditargetkan pada berbagai kalangan. Bukan hanya masyarakat yang tinggal di sekitar daerah Sumatera Selatan. Pihak lain yang bisa digandeng adalah arkeolog. Seperti saat menemukan Gua Harimau, banyak arkeolog yang berperan karena sedang meneliti fosil-fosil manusia yang hidup di sana ribuan tahun yang lalu. Bahkan, situs tersebut telah menjadi incaran arkeolog dari berbagai negara, bukan hanya Indonesia, loh gengs.

 

Jika arkeolog Indonesia dan masyarakat telah digandeng untuk turut ikut serta, maka ini akan memudahkan proses pendataan seluruh cagar budaya yang belum terawat di Sumatera Selatan. Perlu ditekankan kepada masyarakat bahwa pendataan ini bukan untuk mengambil warisan cagar budaya tersebut dan mengeksploitasinya, melainkan akan dirawat dan dijaga sebagai hak milik bangsa Indonesia.

 

Masyarakat hanya bertugas melapor. Setelah melapor, Dinas Kebudayaan terkait akan menerjunkan arkeolog untuk menelitinya dan selanjutnya mendata untuk diteruskan ke pusat. Maka, cagar budaya tersebut terdata di sistem dan diakui oleh negara.

 

Kerjasama pihak-pihak tersebut di atas sangat penting, sebab apabila tidak didata, cagar budaya tidak akan terawat. Bila tidak ada perawatan dan terbengkalai, akan semakin besar potensi cagar budaya tersebut dijual kepada pihak asing. Tentu banyak negara yang menginginkan objek-objek cagar budaya yang ada di Bumi Sriwijaya ini, terutama yang menyimpan banyak bukti sejarah.

 

Pentingnya Perawatan Berkelanjutan

Jika pendataan situs-situs cagar budaya baru telah berhasil dilaksanakan, maka proses selanjutnya adalah terus merawat dan melestarikannya. Pihak Kemendikbud harus mengontrol pimpinan daerah bagian kebudayaan untuk mengurus cagar budaya dengan baik. Banyak situs-situs cagar budaya yang setelah diakui tetapi justru minim perawatan, sehingga banyak wisatawan urung mengunjungi.

 

Kalau perawatan yang baik telah dilakukan, maka fase selanjutnya adalah mempromosikan cagar budaya tersebut sebagai objek wisata yang dapat dikunjungi untuk keperluan pembelajaran dan penelitian. Cagar budaya ini harus mendapatkan perhatian dari masyarakat sehingga perawatan dapat terus dilakukan karena ada pemasukan dari pengunjung.

 

Dengan mengunjungi cagar budaya, masyarakat jadi lebih tahu mengenai sejarah dan asal-usul di dalamnya. Tatanan objek dalam situs cagar budaya pun bisa dimodel lebih kekinian agar banyak anak muda yang berkenan untuk datang. Mengenali budaya dan mencintai sejarah bangsa bukan hanya tugas anak yang masih sekolah, tetapi seluruh masyarakat Indonesia. Cagar budaya menjadi salah satu destinasi yang tepat untuk mempelajarinya tanpa harus membaca buku atau mendengarkan guru.

 

 

 

Sumber Data:

news.okezone.co.id/2017/08/10/mendata-kembali-cagar-budaya-yang-bertaburan-di-bumi-sriwijaya. Diakses pada 20 Agustus 2018.

swamedium.com/2017/04/14/gua-harimau-obyek-cagar-budaya-baru-di-sumatera-selatan. Diakses pada 20 Agustus 2018.

Artikel “9 Situs Jadi Cagar Budaya dari 3000 BCB di Sumatera Selatan” pada koran Berita Pagi terbitan Minggu, 8 Januari 2017.

detik.com/news/berita/belum-terdaftar-cagar-budaya-di-palembang-rawan-dijual. Diakses pada 20 Agustus 2018.