Kisah ini Teruntuk Semua Pejuang Buah Hati

Kisah ini Teruntuk Semua Pejuang Buah Hati

Hari pertama di tahun yang baru 2019 rasanya deg-deg-ser gimanaaaa gituuu…. Karena banyak yg memberikan ucapan selamat tahun baru dengan memanggil saya : mama.

 

Rasanya hampir tidak percaya bahwa di akhir tahun 2018 lalu, tepatnya 16 Oktober 2018, Tuhan memberikan anugerah bayi cantik yang saya beri nama Loemongga Kaylani (putri yang diturunkan dari langit untuk manjadi berkat bagi banyak orang).  bukan hanya Kay (nama panggilan bayi saya) yang terlahir ke dunia ini, tapi saya pun terlahir kembali menjadi seorang IBU.

Predikat yang masih sulit saya percaya karena Kay hadir setelah 8 tahun pernikahan kami , ya gengs…selain pejuang cinta…#eaaaa…hahaha…saya juga adalah pejuang buah hati.

 

Delapan tahun bukan waktu yang singkat, sebuah perjalanan yang penuh likunya, bagi pasangan pejuang buah hati lainnya, pasti mengerti apa yang kami rasakan. Mulai dari sakitnya kuping setiap ada yang bertanya soal punya anak, sampai sakitnya hati karena selalu gagal setiap bulannya dan sakitnya kantong karena biaya yang tidak murah. 

 

Menunggu adalah hal yang terkesan membosankan. Makanya saya dan aelan (suami saya) menyebutknya dengan kata : belajar.

 

Yes, Tuhan memberikan kami waktu belajar yang lebih lama dibandingkan pasangan lainnya. Waktu untuk memperbaiki diri, berefleksi akan cerminan diri, berkomunikasi  lebih intens dan mendalam dengan aelan (istilahnya lebih banyak berbincang dari hati ke hati).  

Sampai akhirnya kami berkesimpulan bahwa sebelum menyebut kata : KAMU, lebih baik terlebih dahulu menyebut kata : SAYA.  Karena pada akhirnya tidak ada yang bisa membuat  saya bahagia selain diri saya sendiri.  

Kami ditempa dengan keras untuk mengerti apa itu arti kesabaran, komitment, dan arti kata : BERDUA.  Karena terkadang wujudnya sih berdua, suami dan istri, tapi hidup di Indonesia ini kan banyak banget additional players -nya…. Ada orang tua, adik, ipar, mertua, belum lagi bude, pakde, saudara jauh, bahkan tetangga, dan lain-lain, dan lain sebagainya.  Yang kemudian “merasa”  berhak berbicara apa saja, menumpahkan pendapatnya, berkesimpulan tanpa diminta dan tanpa bertanya juga kepada kami, apa yang sebenarnya kami butuhkan.

 

Tahun kedua pernikahan, saya sebenarnya pernah hamil. Tapi dibulan ketiga, janin saya berhenti tumbuh, detak jantungnya melemah, kemudian dinyatakan mati. Saya pun harus dikuret.  pada moment ini lah kami tersadar, untuk kemudian tidak pernah mencampuri urusan kehidupan orang lain, apalagi yang sifatnya pribadi.

Setelah kejadian itu, saya dan Aelan tidak pernah sekalipun “berani” untuk bertanya  ataupun berkomentar pada orang lain apalagi menasehati ataupun menggurui tanpa diminta oleh yang bersangkutan. Karena dalam perjalanannya setelah dikuret itu, saya mengalami trauma yang agak panjang, saya sering  menangis di malam hari dan yang bisa aelan lakukan hanya memeluk saya dan meyakinkan bahwa semua pasti indah pada waktuNya.

 

Sementara  orang-orang lain di luar sana sudah mulai ” iseng” dengan pertanyaan aneh-aneh kannnn….Kapan punya anak? Kenapa yang kemarin nggak jadi? Kapan sih kalian punya anak? Anak itu penting lho dalam kehidupan rumah tangga!!

Kenapa kailian nggak ke dokter ini, nggak ke dokter itu, mungkin kurang berdoa, kurang aktif di kegiatan keagamaan…dan lain-lain dan sebagainya…bahkan ada juga yang dengan nada bercanda berkomentar : ya ampunn…belum punya anak juga? Seberapa susahnya sih bikin anak sampai belum punya juga?? Gubrak!!! Buat dia ini lucu…buat kami ini sayatan silet di hati…

 

Pasangan mana sih yang nggak mau punya anak?, kata siapa kami tidak berusaha, masak iya  kita nggak berdoa?, tapi tahu tidak sih mereka…bahwa kami berjuang dengan cucuran air mata   (terkesan agak lebay …tapi ini beneran …hahahah)

 

Dengan semua perjalanan ini, akhirnya saya dan Aelan berkesimpulan bahwa di setiap peristiwa kehidupan manusia pasti ada latar belakang dan perjalanannya masing-masing.

Saya dan Aelan belum punya anak, pasti ada likunya. Si A belum menikah pasti juga ada ceritanya…mungkin dia pernah terluka begitu dalam, mungkin memang sedang menseleksi yang terbaik karena tidak mau asal menikah atau malah merasa tidak mau menikah…ya so what?? Itu kan hidup dia, keputusan dia, kenapa kita harus ikut campur dengan merasa bahwa hidup kita lebih baik dari mereka.

 

Punya anak atau tidak punya anak tetap aja ada masalah kan?, menikah tidak menikah tetap saja masalah datang, punya anak satu atau dua atau tiga…ya sama aja pasti ada masalah juga.

 

Hidup di dunia ini kan tidak ada yang “absolute” bahagia kecuali kita yang mau merasa bahagia dan mencari sendiri kebahagiaan kita. Sendiri lho ya…jangan cari bahagia rame-rame, nanti kalau rame-ramenya hilang terus kita nggak bahagia lagi dong…hahahahah

 

Trus apa hubungannya dengan kata : BERDUA yang akhirnya menjadi slogan saya dan Aelan?. Well…masalahnya adalah..kita nggak akan pernah bisa membuat semua orang tutup mulut kan?.

Ini Negara demokrasi gengs…semua orang  berhak  untuk bicara. Lah mereka punya mulut, masak mereka nggak boleh ngomong?, ngomongnya apa? Ya suka-suka mereka bukan?.

Kita juga nggak bisa mengatur apa yang hendak mereka bicarakan, lakukan, pikirkan. Kalau pun kita mau mengatur, capek nggak ya mengatur ratusan juta orang di dunia ini? Hahaha.

Bisa botak lama-lama karena stress atau sakit karena sering sakit hati dengan omongan orang. Kitanya capek, sementara buat mereka ya semuanya biasa aja…lah terus piye? Hahahahahah…

 

Jadi yang penting ya cuek aja!!.  Yang bagus ya kita terima sebagai referensi kehidupan, yang jelek-jelek menyanyat hati setajam silet ya langsung tutup kuping aja….masuk kiri, pentalin lagi.

Jangan sampe masuk kiri terus keluar di kanan, rugi udah sempet masuk segala. Apalagi masuk.. terus muter-muter dulu di seluruh bagian tubuh baru keluar…udah keburu pusing duluan.  

Nah masalahnya kemudian, kalau kitanya udah bisa “cuek” lalu pasangan kita “memble” capek juga kan?. Memble ini banyak definisinya lho ya….bisa terlalu sensitive cepat sakit hati atau marah-marah, bisa terlalu dengerin orang lain, bisa malah menyalahkan istirnya, dsb. Saya yakin semua pasangan punya definisi “memble”-nya masing-masing.  

Disinilah kemudian kata BERDUA diperlukan. Karena pada akhirnya sebagai pejuang buah hati, yang kita perlukan hanya satu sama lain. Rasa cinta, nyaman, tenang dan semua rasa-rasa yang dibutuhkan untuk bisa berhasil dalam mendapatkan buah hati (karena katanya kalau stress nggak akan pernah jadi) hanya bisa terlaksana ketika pasangan kita juga ikut memperjuangkan hal yang sama.

Nggak akan mungkin kita bisa berjuang sendiri untuk mendapatkan rasa-rasa positif nan indah itu tanpa bantuan yang lainnya.

 

Berdua bersama melangkah, berdua bersama menjalani semua prosesnya, hanya kita berdua yang merasakan perjalannya, hanya kita berdua yang tau sudah berapa ember air mata ini bercucuran, hanya kita berdua yang merasakan apa isi di hati.

 

Tidak perlu mengundang yang lain dan tidak perlu juga terpengaruh dengan yang lain. 

 

Mungkin langkah saya dan aelan sekarang sudah menjadi bertiga.

 

Tapi jelas, kalau berdua saja kemarin “tidak lulus” . bagaimana mungkin bisa dengan mudah melangkah bertiga?

 

Untuk pejuang buah hati lainnya di luar sana.

Teruslan berjuang!! Jangan pernah menyerah, matahari masih terus bersinar setiap malam datang.

Kami sungguh tau perjalanan kalian, tapi kami juga yakin bahwa : BERDUA, kalian pasti bisa!!!!

 


With love, Tantri moerdopo