Ketika Millenial Mengalami Gejala Depresif, Apa Hal Paling Tepat yang Harus Dilakukan?

Ketika Millenial Mengalami Gejala Depresif, Apa Hal Paling Tepat yang Harus Dilakukan?

"Kak, aku harus gimana ya? Ayahku pergi enggak pernah pulang, sedangkan ibuku mau nikah lagi dengan pria yang sangat tidak kusukai. Dia jahat, Kak! Dia pernah ngatain aku anak enggak berguna!"

 

"Kak, pernah nggak ngalamin masa-masa yang kita ini ngerasa kok gak berguna banget buat temen ya? Terus jadi suka ngurung diri dan males buat hahahihi sama orang lain di luar"

 

Dua contoh pesan di atas merupakan yang pernah saya hadapi manakala adik-adik di media sosial berkeluh kesah melalui chat sambil menangis (sepertinya). Mengenai kisah pilu mereka dengan sanak keluarga, orang sekitar, bahkan teman sepermainannya. 

 

Mungkin karena saya sering nimbrung memberi saran di Fanspage-Fanspage yang berbau bucinisasi anak muda dan grup psikologi, mereka mengira saya seorang psikolog. Kemudian nyaman bercerita dan mengirim pesan pribadi sampai seluruh daftar inbox berisi curhat panjang lebar dengan masalah yang beraneka ragam pula.

 

Mulai dari masalah ringan sampai anxiety disorder bahkan MDD (Major Depressive Disorder). Tentu saja, saya hanya memberikan nasihat dari pengalaman yang pernah saya dan teman sekitar alami.

 

Sementara bagi mereka yang sudah masuk ke gejala depresif ditandai berubahnya mood sampai memengaruhi kesehatan, saya tidak bisa banyak membantu. Hanya sekadar mendengarkan cerita ditambah sedikit saran disertai rentetan kalimat manis sebagai pelipur lara. 

 

Dari hasil bimbingan konseling curhatan itu, beberapa anak mengaku pada saya bahwa mereka berhasil bangkit, tetapi sebagian yang lain masih berjuang melawan masalah-masalah peliknya. Saya senang, tetapi rasa khawatir tidak sepenuhnya luput begitu saja. 

 

Oleh karena itu, saya memberikan beberapa saran yang mungkin sangat berguna bagi generasi kita saat ini. Terutama para millenial dalam menghadapi permasalah hidup yang sedang mendera. 

 

1. Cari dan Minta Bantuan Orang yang Kamu Percayai Untuk Berbagi Cerita

Banyak yang berpendapat bahwa bercerita pada Tuhan merasa belum cukup sehingga masih memerlukan orang lain yang mampu dilihat keberadaanya. Paling tidak, agar tidak merasa kesepian.

 

Saya sih setuju saja karena memang kapasitas setiap insan terbilang berbeda saat memerangi perkara dalam hidupnya. Jadi, carilah seseorang; entah itu dari pihak keluarga, sahabat, dan teman dekat yang bisa dipercaya untuk diajak berbagi cerita. 

 

Katakan pada mereka, apa masalah yang kamu alami dari mulai awal hingga inti. Utarakan apa yang paling membuatmu menderita sampai benar-benar mengganggu aktivitas keseharianmu. Kalau pun hendak menangis, menangislah! Tidak masalah dan tidak akan pernah jadi masalah. 

Jangan malu untuk meminta pendapat dan tanyakan pada mereka "Apa yang sebaiknya harus kulakukan?"

 

2. Jangan Memvonis Terlebih Dahulu

Tak jarang, saya juga mendapati beberapa anak yang memvonis dirinya sakit ini, sakit itu, dan mengalami gangguan mental sembarang macem.

 

Ketika saya tanya, apakah sebelumnya sudah pernah memeriksakan diri ke Psikiater atau Psikolog? Jawabannya 'belum' alias hanya mencocokkan gejala yang mereka alami dengan sejumlah artikel yang mereka temu dari internet. Wah, cocoklogi yang berhubungan dengan psikologis diri kita itu berbahaya loh, Gengs!

 

Bagi saya ini sangat fatal. Iya, FATAL. Kenapa? Karena secara tidak langsung kita menjatuhi 'vonis buruk' ke diri kita sendiri yang mengasilkan serangkaian sugesti jahat ke otak. Artinya, kita jadi menjejali diri sendiri dengan penyakit atau gangguan yang sebenarny belum diketahui kebenarannya bersarang ditubuh kita tetapi karena sugesti itulah akhirnya menjadi kenyataan.

 

Awalnya tidak mengidap gangguan A, justru malah terkena A akibat sugesti yang berasal dari diri sendiri. Itulah kenapa para dokter mengatakan agar penderita kanker senantiasa berpikir positif, karena daya sugesti yang baik itu berpengaruh pada sel-sel dalam tubuh. Juga, itulah alasannya mengapa bapak saya dulu bilang.

 

Kita sudah berobat pun diiringi doa setiap hari. Jadi, tugas kamu lah yang harus bersugesti baik pada diri sendiri supaya cepat sembuh. 

Well, perkataan bapak saya benar adanya dan manjur. 

 

3. Kalau Sudah Merasa Ada yang Tidak Beres, Langsung Pergi Berobat!

Nah, inilah poin pentingnya saat kamu mengalami gejala atau perilaku yang mengarah ke depresi. Langsung pergi ke Psikolog atau Psikiater supaya dibantu penanganan dan proses penyembuhannya. Mereka ahlinya dan memang bidangnya di situ.

 

Jangan justru menunggu bantuan datang dan bercerita ke sana kemari terlalu banyak. Sebab tak semua orang mengerti apa yang kamu alami pun penanganan seriusnya.

 

Terpenting nih, jangan dipikirkan kalau ada orang di luar sana yang menganggapmu gila. Kamu tidak gila. Kamu pun juga bukan penjahat yang malu-maluin suatu komunitas masyarakat. Justru jika tidak segera disembuhkan, bisa berlarut-larut dan menyebabkan gangguan jiwa yang lebih parah. 

 

4. Alami Kekerasan? Lapor Ke Polisi!

Segala tindak kekerasan di rumah tangga atau keluarga itu bisa dipidanakan lho! Juga buat kamu yang masih mengecap kelamnya masa-masa pacaran, kalau menerima ancaman dari mantan bahkan mendapat kekerasan, langsung lapor ke pihak berwajib. Jangan ragu! Ini berlaku juga untuk kamu yang masih di bawah usia 18 tahun. 

 

Banyak millenial zaman sekarang terjebak problematika masa lalu yang tak kunjung usai. Merka bingung dengan masa depannya nantu sehingga menimbulkan luka & kecemasan berlebih yang berpengaruh ke psikisnya. 

 

5. Jangan Pernah Melepaskan Perkara Apa pun Dari Tuhan

Bagi muslim, berdoa dan bersujud memohon pada Allah Subhanahu Wa Ta a'la merupakan salah satu perihal paling penting supaya diberikan kesabaran dan kekuatan melebihi masalah yang sedang dihadapi. Begitu juga dengan Jemaat Kristiani serta umat bergama lainnya yang berdoa dengan cara mereka. 

 

Seberat apa pun, jangan pernah mengindar dan melalaikan Tuhan, karena Ia yang memegang serta menakdirkan kita dalam hidup. Ketika spiritual kita membaik, maka kejamnya dunia pun bisa kita hadapi. 

 

Jadi begitu ya manteman semuanya yang baik hati, tidak sombong, rajin menabung, dan ini juga penutup garing nggak renyah dari saya. Semoga kita semua tidak menyerah bagaimana pun situasinya.