Kamu Mudah Baper dan Termakan Hoaks? Belajar dari Komedian

Kamu Mudah Baper dan Termakan Hoaks? Belajar dari Komedian

Photo by Bogomil Mihaylov on Unsplash

Banyak orang menganggap menjadi komika adalah profesi yang kurang menjanjikan, terutama kalau belum terkenal. Selain bayarannya tidak seberapa, panggungnya juga enggak terlalu banyak. Misalnya dalam sebulan hanya naik panggung 3-4 kali dengan bayaran di bawah Rp500.000, maka ikutan CPNS memang patut dipertimbangkan, Gengs!

Namun, meskipun pekerjaan melawak tunggal tdak terlalu menjanjikan, setidaknya ada empat hal yang bisa kita pelajari dari profesi ini, Gengs!

 

1. Lebih santai dalam menyikapi hal-hal yang memancing emosi jiwa
 

Photo by eli-defaria-100532-unsplash

 

Materi seorang komika itu umumnya dibagi menjadi dua: situasi (mengalami) dan observasi (mengamati). Jadi, kalau kamu nonton acara Stand Up Comedy, materi yang dibawakan oleh komika itu berasal dari pengalaman dan pengamatan mereka. Untuk mengolah kedua hal itu menjadi sebuah materi komedi dibutuhkan sesuatu yang disebut Sensibilitas Komedi. Intinya, sih semacam kemampuan untuk peka dan jeli dalam melihat potensi kelucuan.

Sensibilitas itu enggak bisa dipelajari, tetapi bisa dilatih. Nah, karena sering latihan itulah para komika cenderung memiliki kepekaan yang tinggi. Apa sisi positifnya? Dengan melatih diri lebih peka terhadap komedi, kamu akan menjadi pribadi yang enggak gampang tersinggung. Ini bagus banget untuk kamu yang senang main media sosial. Dengan Sensibilitas Komedi yang tinggi, insyaallah kamu akan lebih woles dalam menanggapi konten-konten cringe dan komen-komen hate speech.

 

2. Belajar kritis terhadap segala sesuatu yang dilihat dan didengar
 

Sumber: https://unsplash.com/@huskerfan3

Masih nyambung dengan alasan sebelumnya, seorang komika "dituntut" untuk kritis dan skeptis. Kenapa? Karena komedi adalah seni menabrak konsep. Semakin getol mencari celah kesalahan, kekeliruan, atau kejanggalan dari sesuatu, semakin banyak pula potensi kelucuan yang bisa diciptakan. Kamu boleh nyoba, Gengs!

Singkatnya, komika itu memang paling jago dalam mencari-cari kesalahan. Namun, bukan untuk menjatuhkan, ya, melainkan untuk membuat bahan candaan. Nah, kamu bisa pelajari sikap kritis dan skeptis itu terhadap konten di media sosial dan broadcast di grup WhatsApp. Setiap kali mendapat info, coba dicari tahu dulu kebenarannya. Jangan asal percaya, apalagi sampai ikut menyebarkan. Siapa tahu yang kamu dapat itu hoaks, my love~

 

3. Membiasakan diri untuk memperkaya kosakata
 

Sumber: https://unsplash.com/@jilburr

Siapa pun yang mengklaim diri sebagai anak sajak, anak literasi, dan anak-anak sejenisnya, kalian harus berkaca pada komika. Sebab para pelawak tunggal ini termasuk orang yang gemar memperkaya kosakata, terutama frasa, idiom, dan bahasa slang. Alasannya jelas, karena menempatkan beberapa kosakata tertentu dapat menimbulkan efek kelucuan.

Lagi pula, dengan sikap memperkaya kosakata ini, secara tidak langsung para komika telah membantu tugas Ivan Lanin dan Kemendikbud: mengenalkan bahasa pada masyarakat. Bisa saja, kan, ada banyak kosakata yang kita baru tahu dari para komika. Kalau kamu suka menulis puisi, sajak, cerpen, novel, dan sejenisnya, jangan mau kalah dari komika. Maksudnya, harus rajin baca, jangan sampai miskin analogi dan metafora. #SalamKBBI

 

4. Menyampaikan kritik sosial dengan cara yang menyenangkan
 

Sumber: https://unsplash.com/@antenna

Menurut sejarahnya, Stand Up Comedy lahir dari Amerika sebagai bentuk kritik sosial terhadap diskriminasi warna kulit. Amerika pernah menangis lama karena orang kulit hitam dipandang sebelah mata. Banyak yang menyuarakan ini, tetapi selalu gagal. Sampai akhirnya muncul orang-orang cerdas yang mengkritik dengan cara komedi dan, berhasil!

Cara para komika menyampaikan kritik sosial dengan majas ironi dan sarkasme itu memang patut diacungi jempol, karena enggak semua orang bisa (dan berani) melakukannya. Kalau kamu termasuk generasi milenial, sebenarnya cara berkritik seperti komika itu bisa dicoba. Ya, masih lebih baik mengkritik dengan sindiran yang dikemas dalam candaan daripada menebar ujaran kebencian, Gengs.

Nah, gimana? Mau nyoba jadi komika atau langsung ikutan CPNS aja?