Jolenan Pererat Warga Sumongari, dan Pelihara Kearifan Lokal

Jolenan Pererat Warga Sumongari, dan Pelihara Kearifan Lokal

Bulan Sapar datang lagi di tahun 2019 ini. Ini pertanda acara budaya dua tahunan di Desa Sumongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah siap digelar lagi. Kali ini sebanyak 43 Jolen  (Gunungan) diarak dalam kirab budaya Festival Jolenan, Selasa (15/10).

 

Gelaran ini sangat dinanti oleh ribuan pengunjung, selain menikmati local wisdom, para pengunjung juga merasakan atmosfir kebersamaan dan kekerabatan warga yang masih terpelihara dengan baik di era kekinian yang kadang memaksa ego dikedepankan.
 

 

Festival Jolenan yang merupakan tradisi Merti Desa ini diawali dengan berkumpulnya peserta kirab di seputar Makam Sesepuh Eyang Gedono Gedini, tak jauh dari balai desa. Setelah dilakukan acara seremonial, kirab dilepas oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Purworejo, Agung Wibowo, yang hadir mewakili Bupati.
 

 

43 Jolen yang dibuat warga dari 23 RT di lima pedukuhan yang diusung dalam kirab. Barisan terdepan kirab, diawali dengan  pembawa rangkaian Gagar Mayang, Manggolo yudho, Talang Pathi, Dewi Sri, pembawa Bokor, Putri Somongari, Raden Sadono, dan Prajurit Somongari.


 

Kepala Desa Somongari, Subagyo, bergabung dalam barisan kirab beserta perangkat desa, Satria Mataram, siswa sekolah, marching band, grup hadroh, serta grup kesenian tradisional antara lain, Tari Ndolalak, Jaran Kepang, Reog, Gedrug dan Incling.

 

Dalam daftar tamu undangan terlihat Kepala Dinpermasdes Agus Ari Setyadi, Ketua DPRD Dion Agasi, Kepala Stpol PP, serta Forkopimcam.
 

 

Sekitar 4 kilometer ditempuh oleh rombongan kirab di seputar Somongari, arak-arakan kemudian kembali ke Balai Desa Sumongari dan digelar kenduri serta doa bersama.  Inilah esensi wujud nyata cara mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa atas panen yang melimpah, hasil ladang yang mereka petik untuk kelangsungan kehidupan warga desa.

 

“Arti filosofi jolenan, dari kata ojo klalen (jangan lupa), kita jangan lupa kepada Yang Maha Kuasa yang telah memberikan rejeki kepada warga Somongari, dari hasil pertanian terutama manggis dan durian,” ungkap Ketua Panitia, Suyono kepada Reviensmedia.
 

Jolen merupakan media berbentuk gunungan untuk mengusung aneka sajian yang terbuat dari bambu, janur aren, dan gedebong pisang. Isi jolen ini berupa Nasi Tumpeng, Ingkung Ayam Kampung, Wajik dan Jadah, buah-buahan seperti  Pisang, Tomat, Terong, serta sayur-sayuran dan kudapan olahan.

 


“Nantinya semua ini akan diperebutkan oleh siapa saja yang datang. Yang diperebutkan warga kerupuk atau joledre dulu. Kemudian dikeluarkan isinya, ada tiga, dua untuk penggotong, satu untuk kenduri yang kemudian dibagikan bagi semua yang hadir di sini,” tamahnya.
 

 

Dalam sambutan tertulis, Bupati Purworejo, Agus Bastian yang dibacakan Kepala Dinparbud Agung Wibowo menyampaikan apresiasi kepada warga Somongari yang masih setia memelihara tradisi yang adiluhung dan lekat dengan kearifan lokal ini.

 

Menurutnya, kegiatan seperti ini bisa menjadi wadah bagi warga untuk tetap mempererat silaturahmi, saling menghormati, serta saling tepa selira. Di mana hal-hal tersebut sudah mulai jarang terekspresikan di dalam masyarakat.
 

 

“Esensi dari acara ini sangat dalam dan penting di era yang serba cepat dan kadang mementingkan ego pribadi, ada kepedulian sesama dan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, ini yang mestinya selalu kita kedepankan dalam hidup yang sesungguhnya untuk meraih kebahagiaan dan kesejahteraan hidup!” kata Imam salah satu wisatawan asal Jakarta yang khusus datang untuk acara Jolenan ini.

 

Dirinya salut terhadap acara budaya seperti ini masih bisa eksis memanggil dan mempersatukan warga Desa Sumongari.

 

 

“Ya saya tahu Pakes (Paguyuban Keluarga Sumongari) yang bertebaran di berbagai kota masih terpanggil untuk kembali ke sini patungan membangun desa dan menjaga eksistensi budaya lokal yang memang perlu dijaga di tengah kecenderungan jaman yang makin hedonis dan individual!” tambahnya.
 

 

Sumongari yang dikaruniai Sumber Daya Alam yang eksotik dengan Waterfall, Bua Durian, Manggis dan Duku, serta aneka kesenian tradisional yang masih terpelihara eksistensinya layak menjadi destinasi wisata unggulan di Purworejo. (agam)