Caping Shield, Inovasi Kearifan Lokal di Kenormalan Baru

Caping Shield, Inovasi Kearifan Lokal di Kenormalan Baru


“Dibalik Musibah Pasti Ada Hikmahnya”

 

Siapa sih yang tidak tau pepatah di atas, ya kan gengs? Tidak sedikit orang yang mengamini pepatah itu, yang mana di balik sebuah musibah, Tuhan senantiasa akan memberikan kita hikmah yang semua orang akan pahami. Apapun himahnya, hanya Tuhan yang menentukan. Seperti halnya saat bencana non alam yang Indonesia, juga dunia alami sekarang ini yaitu Pandemi Virus Korona atau Covid-19.


Namun dengan adanya musibah non alam itu, kita diberikan banyak banget hikmah yang bisa kita petik, seperti penulis alami, yang mana sebelum adanya pandemi ini saya tidak bisa berkarya membuat konten youtube kalau tidak datang ke lokasi, namun dengan adanya pandemi ini munculah inovasi dan teknologi baru yang mana orang bisa ngobrol secara virtual dan bisa direkam pula menjadi sebuah video. Buat saya itu adalah hikmah di balik bencana covid-19 ini, dan masih banyak lagi tentunya.


Ternyata kreatifitas masyarakat Indonesia di tengah musibah ini malah justru meningkat. Ngomong-ngomong soal kreatifitas, di tengah pandemi ini anggota dari Pasar Inis Purworejo membuat  inovasi pelindung wajah yang bernuansa kearifan lokal yaitu Caping dan Blangkon Shield, loh gengs!


Saat saya hubungi lewat pesan singkat, Mas Purnomo, pengelola Destinasi Digital Pasar inis menjelaskan alasan membuat inovasi pelindung wajah ini karena untuk penerapan pola hidup New normal di lingkungan Pasar Inis. “Idenya Pasar Inis konsisten mengangkat kearifan lokal, salah satunya penggunaan busana Jawa kebaya & lurik bertudung caping & blangkon. Ide caping shield adalah inovasi kolaborasi New normal dan local wisdom serta Anggota Paguyuban Pasar Inis wajib membuat sendiri caping dan blangkon shield ini”, ungkap mas Purnomo.


Menurutnya yang membedakan dengan pelindung wajah lain adalah karena dipasang di caping & blangkon, hal itu menjadikan tatanan new normal tidak kehilangan jati diri dan tentunya tetap unik & fashionable.


Dengan adanya inovasi shield yang bernuansa kearifan lokal dan tetap menjaga protokol kesehatan, pasar ini sudah mulai buka sejak 14 Juni 2020 berdasarkan surat edaran Bupati Purworejo. “Dulu, Pasar Inis buka jam 5-11 saja, sekarang buka jam 5 pagi sampai 16.30 demi mengurai kepadatan pengunjung, karena berkerumun adalah hal yang paling dihindari selama pandemi covid19”, tuturnya.

 

Lebih jauh lagi mas Purnomo menjelaskan bahwasanya Pasar inis merupakan destinasi wisata kuliner di Kecamatan Purwodadi, Purworejo selalu konsisten mengikuti perkembangan situasi, seperti halnya di fase new normal menghadapi Covid-19. “Protokol ketat diberlakukan sejak kedatangan (titik parkir). Pengunjung wajib diukur suhu tubuhnya terlebih dahulu, jika lebih dari 37,5 maka dipersilahkan kembali ke mobil/tidak diperbolehkan memasuki pasar inis”, jelasnya.


“Selanjutnya, ada 2 titik cuci tangan yang disiapkan pengelola, pengunjungpun wajib cuci tangan disini. Selama di Pasar inis, pengunjung wajib mematuhi beberapa aturan : Membuka masker hanya saat makan, Jaga jarak dengan pengunjung lain, Tidak boleh memindahkan bangku lincak yang sudah diatur jaraknya, duduk di bangku hanya boleh jika 1 rombongan/kelompok atau keluarga”, lanjutnya.

 

Selain itu untuk pedagang wajib memakai sarung tangan, masker dan caping shield, menutup kulinernya dengan penutup transparan, idak melakukan kontak langsung dengan pengunjung, untuk pengelola, H-1 dilakukan penyemprotan disinfektan.


Sebagai penutup mas Purnomo memberikan sebuah pandangan bahwasanya, tatanan baru new normal bisa dengan mudah dilaksanakan masyarakat karena tidak merubah kebiasaan lamanya, artinya, penyesuaian tanpa perubahan masif. Perubahan Budaya adalah hal tersulit, maka Blangkon & caping shield ini diharapkan bisa jadi contoh bagaimana menyikapi tatanan baru new normal tanpa culture shock .