Berbohong? Taktik Sosial yang Efektif Dan Masih Kerap Dilakoni

Berbohong? Taktik Sosial yang Efektif Dan Masih Kerap Dilakoni

Picture : Pixabay.com

 

Wanita memang makhluk yang unik. Ia pandai sekali berbohong perihal hati, bilangnya tidak apa-apa, nyatanya di balik bilik dan di bawah selimut, Ia menangis tersedu-sedu. Sebut saja mereka masternya dalam berbohong. Benar atau tidak, Gengs?

 

Bicara perihal kebohongan, tak hanya wanita loh, yang kerap melakukannya! Tetapi kaum pria dan anak-anak juga sering melakukannya. Kalau anak-anak sih alasannya klise, takut dimarahi orangtua. Tapi kalau kaum pria? Au ah gelap....hehe

 

Eitss!!! Topik sebenarnya bukan perihal berbohong untuk kejahatan, ya. Tetapi berbohong untuk kebaikan. 

 

Eh, tapi mana ada berbohong yang dianggap kebaikan! Yang namanya orang baik tidak akan berbohong, bukan? Tapi, mari kita telaah bersama, biasanya orang yang kerap melakukan kebohongan, mereka selalu memiliki alasan. 

 

Ya, walau bagaimanapun alasannya tetap tidak bisa dibenarkan untuk dijadikan dasar dalam melakukan kebohongan.

 

Kita sebut saja kebohongan-kebohongan 'tertentu' tersebut sebagai kebohongan putih. Kebohongan putih ini berkutat tentang masalah kecil atau hal yang tidak penting untuk diucapkan seseorang, agar tidak menyakiti perasaan orang lain. Dan biasanya, orang akan berbohong dengan cara melempar kode dengan mengatakan ia sedang sibuk. Padahal yang sebenarnya, ia sedang menghindari orang tersebut.

 

Sehingga hal yang dapat dijadikan sebagai alasan ialah dengan cara berbohong demi tetap menjaga kredibilitas 'sopan' dihadapan orang lain. Ya, setidaknya kebohongan tersebut dapat menghindari kecanggungan agar tetap disukai oleh orang lain dan tidak mengecewakan siapa pun. Benar atau tidak, Gengs?

 

Menelaah perihal 'penipuan verbal', dapat disebutkan juga bahwa alasan terbesar orang tidak jujur ​​adalah bahwa 'berbohong merupakan taktik sosial yang sangat efektif untuk dilakoni sebagai solusi ketika mendapat masalah.

 

Ada beberapa alasan mendasar lainnya yang kerap dijadikan alasan untuk melakukan kebohongan, seperti memberikan sanjungan untuk seseorang, untuk menghindari kecanggungan, untuk mempengaruhi orang lain, untuk menghindari hasil yang negatif, untuk membuat orang terkesan dan untuk mempertahankan kebohongan-kebohongan yang sebelumnya. 

 

Seperti yang kita ketahui, sanjungan adalah salah satu bentuk penipuan verbal yang paling umum dan kerap sekali dilontarkan. Seseorang mungkin memberikan pujian palsu agar dapat mempermudah mendapatkan teman, atau untuk membujuk seseorang agar mau melakukan sesuatu untuknya dan masih banyak lagi alasan yang lain.

 

Ya, meskipun bagi sebagian orang yang skeptis dengan sanjungan, mereka dapat mengetahui bahwa pujian yang diucapkan tanpa disertai dengan ketulusan. 

 

Sebut saja Salesman. Katakanlah Salesman itu menjajakan produk pembersih wajah. Ia mungkin mengatakan, bahwa dulu kulit wajahnya tak sebersih sekarang. Jerawatan, komedo dan kulit berminyak, membuat masa remajanya kurang menyenangkan. Sehingga ia menemukan produk tersebut, pembersih wajah yang ampuh sehingga dapat mengubah hidupnya. Dan ia merekomendasikan pembersih wajah itu untuk wajib dimiliki. 

 

Cara berbohong tersebut, digunakan agar orang lain melakukan apa yang sedang diinginkannya. Kebohongan merupakan taktik yang efektif, jika berada di dalam dunia bisnis. Benar atau tidak?

 

Contoh lainnya ialah Manajer di sebuah perusahaan yang terkenal. Seorang Manajer mungkin membesar-besarkan keberhasilan yang pernah dicapainya untuk membuat para calon investor terkesan dan tentunya untuk mencegah kolega menantang keputusannya. Ia juga menginginkan bawahannya tunduk dengan perintahnya, seolah-olah hanya Ia yang pantas untuk di sukai, dihormati, dikagumi dan ditakuti.

 

Dari kasus tersebut, dengan berbohong dapat membuat diri terlihat lebih mengesankan sehingga dapat mengintimidasi orang lain. Terkesan anarkis memang, tetapi masih terlihat manjur untuk diselipkan dalam aturan kelompok kecil maupun kelompok besar. Benar atau tidak, Gengs?

 

Seiring bertambahnya usia, kita pun akhirnya belajar untuk menjadi pembohong yang lebih baik. Artinya seseorang akan terus berbohong untuk melindungi diri sendiri. Dan percayalah kebohongan tidak berhenti pada satu titik. Ia akan kembali berlanjut untuk mempertahankan kebohongan-kebohongan sebelumnya. 

 

Jika awalnya berbohong untuk sesuatu yang kecil, dalam mempertahankan kebohongan tersebut, kadang-kadang kita harus berbohong dengan cara yang lebih besar dan lebih besar lagi untuk kembali menutupinya. Tetapi percayalah, tidak ada dusta yang terlalu kecil untuk membuatmu terjebak dalam masalah yang besar. Karna itulah sebabnya, seperti kata para tertua, jujur adalah kebijakan terbaik.

 

Jadi, kembali ke-pribadi masing-masing, ingin tetap melakukan kebohongan putih, atau menjadi pribadi yang jujur.