Berbagi Perlu Diajarkan Sejak Dini, ini Buktinya!

Berbagi Perlu Diajarkan Sejak Dini, ini Buktinya!

Photo by Herson Rodriguez on Unsplash

 

Suatu ketika disiang hari yang cukup terik, seorang Ibu duduk di teras rumah bersama anak laki-lakinya yang telah menikah. Sambil mengipasi tubuhnya yang kepanasan dengan kipas bambu, sang Ibu bertanya kepada anaknya, apakah si anak mempunyai uang sekitar 2 juta an untuk menambah biaya renovasi rumah yang mungkin memakan biaya yang cukup banyak. Sang Ibu hendak meminjam uang, dan berjanji akan segera mengembalikannya sesegera mungkin setelah musim panen tiba. Tidak ada sebulan lagi. Namun sang ibu terkejut mendengar jawaban dari anak laki-lakinya.

 

“kalau tidak mampu merenovasi rumah, mbokya jangan merenovasi rumah”, ucap si anak laki-laki itu tanpa hati.

 

Sang Ibu tak meminta uang pada anak laki-lakinya yang bergelimang uang, hanya meminjam saja karena ada kebutuhan yang mendesak dan sesegera pasti dikembalikan. Sang Ibu terdiam. Tak mampu berucap kata. Hatinya perih mendengar jawaban yang tak diharapkan dari anak kebanggaannya. Yang telah ia kandung selama sembilan bulan, yang telah ia besarkan dengan penuh kasih sayang, yang telah ia didik hingga sukses seperti sekarang ini.

 

Meski hatinya merintih perih, sang Ibu tetap menyunggingkan senyum diwajahnya yang mulai keriput. Begitulah seorang Ibu, pembohong yang terbaik. Menutupi kesedihannya dibalik senyumnya yang penuh arti.

 

Disisi kehidupan yang lain, seorang mahasiswa berboncengan dengan kekasihnya. Mengendarai sepeda motor di jalanan yang cukup ramai. Mahasiswa itu, tiba-tiba berhenti dan berbalik arah. Sang kekasih tampak kebingungan. Ia bertanya, namun tak memperoleh jawaban. Kenapa berbalik arah, dan dengan kecepatan yang cukup tinggi. Padahal jalanan cukup ramai.

 

Setelah beberapa saat kemudian, mahasiswa itu meminta kekasihnya untuk turun dan ia memarkir motornya di pingggir jalan. Ia menghampiri Bapak Tua yang berjualan otok-otok (mainan anak-anak). Ia membeli 2 buah otok-otok yang harganya 15.000 per buah itu. Mahasiswa itu mengeluarkan 2 lembar uang seratus ribuan, dan memberikannya pada Bapak Tua penjual otok-otok itu. Uang yang lebih dari harga sesunguhnya.

 

“kembaliannya untuk bapak simpan saja, semoga bermanfaat pak”, ucap mahasiswa itu.

“terimakasih Nak, semoga Tuhan membalas kebaikanmu”, doa Bapak Penjual otok-otok itu.

 

Sang kekasih yang melihat kejadian itu merasa heran dan bertanya mengapa ia membayar lebih untuk otok-otok itu. Dan mau diapakan otok-otok itu. Si mahasiswa menjawab dengan santainya bahwa ia kasihan melihat bapak tua itu yang jualannya belum laku. Dan ia akan memberikan otok-otok itu kepada anak-anak tetangganya. Pasti anak-anak itu senang sekali. Tidak ada salahnya jika kita berbagi tanpa melukai harga diri orang lain.

 

Sang kekasih takjub mendengar jawabannya. Luarbiasa. Ia kembali bertanya “bagaimana bisa kau sebaik itu? Hatimu begitu mulia?”

“ini bukanlah apa-apa, ayahku ibuku dan keluargaku selalu mengajariku sejak kecil untuk berbagi kepada sesama terutama kepada mereka yang tidak mampu”.

 

Gengs, pernah melihat kejadiaan di atas? Sering kita saksikan atau bahkan kita alami sendiri. Bagaimana sulitnya berbagi meski sedikit bagi seorang yang hatinya tak tersentuh oleh rasa iba kepada sesama bahkan kepada keluarga?

 

Dan berbagi itu, memang gampang-gampang susah gengs. Perlu berlatih secara berulang-ulang. dan dilatih dari sedini mungkin. Berlatih peka terhadap perasaan dan kebutuhan orang. Berlatih merasakan penderitaan orang. Berlatih ikhlas memberikan bantuan kepada orang. Sampai latihan-latihan itu menjadi kebiasaan yang jika kita tidak melakukannya akan terasa ada yang kurang. Jika kita belum mampu berbagi secara materi, tak ada salahnya kita berbagi secara moriil. Memberi dukungan, semangat dan tenaga kita untuk orang-orang disekitar.

 

Dan pernah saya mendengar ucapan dari orang bijak, bahwa jika kita memberikan sedikit  dari yang kita punya untuk orang lain, maka Tuhan akan menggantinya dengan berlipat ganda. Belum percaya, mari kita buktikan....