Antara Khilaf, Benci, dan Cinta

Antara Khilaf, Benci, dan Cinta

Foto: jurnalsulawesi.com

 

Sebagaimana manusia pada umumnya, tentu kita tak terlepas dari khilaf dan dosa. Entah karena tergelincirnya lidah, keseleonya jemari, atau tak eloknya laku, disadari atau tidak. 

Pada saat kita melakukan khilaf, besar atau kecil, pastilah sangat berharap pihak di seberang untuk mengatakan, "Tidak apa-apa, bukan masalah." Pun orang lain berharap sama pada kita, Gengs.

Lalu bagaimana kita bisa menempatkan khilaf pada posisi yang tepat?

Chek this out, Gengs.

 

Bencilah Kesalahannya, Jangan Kau Benci Orangnya

Kaidah kehidupan di atas begitu indah dan terlihat sangat mudah. Tetapi sesungguhnya sangat sulit memisahkan perilaku dengan pelaku. Tentunya Gengs pasti pernah baca berita; maling dibakar hidup-hidup, pencopet dihakimi massa. Ini adalah contoh kita belum mampu memisahkan perilaku dan pelaku.

Di titik inilah 'maaf' akan akan menjadi pemutus benci. Meminta maaf dan memaafkan akan membuat cinta bersemi.

Sulit memang, tapi bukan berarti mustahil. Mari latih kepekaan dari sekarang. Bencilah perbuatannya, tapi jangan orangnya. Karena seseorang masih mungkin untuk bertobat. Dan taubatnya orang berdosa yang membuatnya selalu mengingat Allah, adalah lebih baik daripada amal sholih yang membuat seseorang sombong.

 

Nasehat itu, Tulus

Dalam berhubungan, saat orang lain melakukan khilaf, ada kalanya kita sangat berambisi untuk langsung menasehatinya. Bahkan tak jarang dilakukan di muka publik, agar menjadi pelajaran bagi yang lain.

Benarkah sikap ini? Mari kembalikan pada diri kita. Sukakah kita, jika diperlakukan demikian? Apakah hal itu termasuk dalam menasehati atau mempermalukan?

 

Jawaban dari rentetan pertanyaan di atas adalah, tidak. 

Gengs, mari simak beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memberi nasehat.

 

1. Sampaikan dengan cara yang baik

Ada perkataan dari As Syafi'i yang layak kita jadikan pedoman dalam memberi nasehat, "Nasehati aku di kala kita hanya berdua. Jangan meluruskanku di tengah ramai, sebab, nasehat di depan banyak manusia terasa bagai hinaan yang membuat hatiku luka."

 

2. Berikan pada yang meminta

Nasehat yang diberikan pada yang meminta, tentu akan lebih diterima. Meminta berarti butuh. Pada saat seperti ini, hendaknya kita bisa menempatkan diri sebagai cermin, yang mampu memperlihatkan kekurangan tanpa menghakimi. 

Dalam bercermin, pelaku akan menyadari kekurangan dalam bayangannya. Dan dengan segera akan memperbaiki diri. Bukan menghina bayangan, atau malah menghancurkan cermin.

 

3. Memperhatikan waktu, situasi, dan kondisi

Kita harus bisa membaca wajah seseorang. Apakah saat ini yang dibutuhkannya nasehat, pelepas dahaga, atau lapar? Jika kita bisa membedakannya, insyaAllah akan dapat memberikan yang tepat pada orang itu.

 

4. Sampaikan dengan tulus atas dasar cinta

Nasehat atas dasar cinta akan menyejukan, bukan menyiksanya dengan ditunjukkan pada luput dan khilaf yang bertubi.

Nasehat yang tulus akan dikenang dengan kerinduan, bukan menghakimi yang justru akan menumbuhkan benci.

Dalam sebuah firman Allah dikatakan, "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih, serta nasehat menasehati dalam kebenaran dan nasehat menasehati dalam kesabaran."

Cukuplah ini menjadi pegangan kita dalam menjalani kehidupan, sungguh, tak ada manusia yang luput dari khilaf. Maka bencilah perbuatannya, dan tetap cintailah pelakunya.