Category: Puisi

Senja yang Pilu

Menggelitik manja, Adakah senja tahu, Bahwa aku merenjana

Pancasila Telah Koma

Jika adil hanya soal mereka Gunanya apa kau minta kami bersuar Jika hukum sengaja dipajang Untuk apa kami mati menggelandang

Sayap-sayap Asa

Telah terkirim semoga untuk disegerakan Bahkan berkali-kali mengalir bersama rinai air mata Pula dengan peluh yang bercucuran

Bila Memang Sedang Sakit

Aku berbicara denganmu Duhai hati yang sedang menangis pilu Apa air matamu menetes karena bunga

Ketika Senja Tak lagi Jingga

Senja... Yah.... Hari ini mulai senja

Yang Pernah Singgah

Tak ada yang pernah salah atas sebuah perasaan

Sang Bendera

Berjalan dalam liku setiap penjuru negeri Sang merah putih gagah berkibar di tepian jalan Berjuta punggawa mendongak hormat melihatnya...

Sebutir Pasir Itu Aku

Biarkan yang terbaik menjadi yang terindah Apa dayaku tuk menyulap sebutir pasir menjadikannya intan

Sebait Doa Untuk Bunga

Terpikir olehku mungkin bunga itu kehausan atas alam yang gersang Tapi kutanya kemudian jawabnya aku setiap hari minum dari dasar...

Maaf Diam-Diam Akupun Membunuh Rasa Ini

Entah awalnya dari mana rasa ini ada Entah kapan rasa ini mulai berubah

Senyap di Ibu Kota

Karya: Nuela Maahury  Sembunyilah dikesunyian Jika memang melegakan Beradulah di keramaian

Jalan Tuhan

Ku berjalan menelurusi lorong penuh riuh para pekerja Suara musik syahdu perlahan mulai menampakkan wujudnya

Untukmu Pendusta

Selalu saja ia mengejawantahkan iya Namun apa, semua berlumur dusta Iya, sekarang..

Pelangi Tak Berkilau

Sungguh penaku terasa kaku Kini tak lagi mampu bersajak seperti dulu Dulu aku mampu mengukir namanya dalam sajak pelangiui

Dalam Logika

Aku mulai belajar mengeja bait-bait kehidupan Mencari makna dalam sebuah cekung-cekung mata